BAHAN RUJUKAN YANG MEMUAT INFORMASI KEPUSTAKAAN

Bahan pustaka sumber kepustakaan meliputi katalog, bibliografi, indeks, dan abstrak. Katalog adalah salah satu jenis sarana atau kelengkapan di suatu perpustakaan yang sengaja dibuat untuk membantu pengguna dalam menemukan kembali informasi bibliografi yang tersimpan di perpustakaan. Dengan menggunakan katalog perpustakaan, Anda dapat mencari buku-buku jika mengetahui salah satu dari unsur berikut: pengarang, judul atau subjeknya saja.

Katalog memiliki bermacam-macam bentuk, yaitu berbentuk kartu, lembaran kertas, buku, mikrofis dan yang berbentuk basis data di komputer yang dikenal dengan nama OPAC (Online Public Access Catalogue). Sedangkan Bibliografi dibuat untuk menunjukkan apa saja yang pernah diterbitkan oleh pengarang, judul dan subjek tertentu. Bibliografi berperan sebagai pelengkap katalog di perpustakaan, sehingga penempatan bibliografi berdekatan dengan kartu katalog. Jenis bibliografi antara lain bibliografi umum, khusus/terseleksi, nasional, universal, retrospektif, beranotasi, dan bibliografi bio-bibliography atau kumpulan karangan.

Indeks memberi petunjuk mengenai karya tulis apa saja yang telah diterbitkan dalam berbagai majalah atau dokumen bentuk lain mengenai subjek tertentu. Informasi yang diberikan pada indeks selain subjek karya tersebut, adalah informasi mengenai pengarang, penyunting, judul, sumber, tahun dan sebagainya. Indeks memberikan petunjuk dimana atau kemana kiranya informasi dapat ditemukan. Ada tiga jenis indeks lain, yaitu indeks literatur yang ada dalam majalah-majalah, indeks literatur yang ada dalam surat-surat kabar, dan indeks literatur yang berupa buku-buku atau bentuk bahan pustaka lain.

Adapun abstrak atau ringkasan adalah suatu penyajian dokumen yang singkat dan cermat, tanpa tambahan atau kritik dari pembuatan abstrak. Ditinjau dari cara penyajiannya abstrak dapat dibedakan menjadi abstrak indikatif dan abstrak informatif.

pengantar sosiologi

sebelum kita mempelajari sosiologi lebih jauh, ada baiknya kita mempelajari awal munculnya sosiologi. Awal munculnya ilmu sosiologi disebabkan oleh ketidakstabilan masyarakat eropa yang ditandai dengan adanya Revolusi politik di Perancis pada tahun 1789 dan munculnya revolusi industri dan munculnya kapitalisme sehingga mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat yang menjadi serba keos dan disorder. Perubahan tersebut mendorong pemikir-pemikir ilmu sosial lainnya menjadikan masyarakat sebagai sebagai objek kajiannya yang dimotori oleh Agust Comte dan diberi nama Sosiologi.
Setelah kita mengetahui awal munculnya ilmu sosiologi tentunya kita pingin mengetahui apa itu sosiologi ? secara harafiah sosiologi terdiri dari dua kata yitu socius dan logos. Socios berarti kawan, sedangkan logos ilmu. Sehingga kalau kita mendefinisikan secara sederhana yaitu ilmu yang mempelajari tentang pergaulan hidup (teman). Sesunggunhnya ilmu sosiologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai kehidupan manusia sebagai individu maupun masyarakat. Oleh karena itu sosiologi juga mempelajari berbagai sistem yang ada dimasyarakat seperti : Interaksi sosial, sosialisasi, stratifikasi sosial, kelompok sosial, prilaku sosial dan kontrol sosial, tatanan sosial, perubahan sosial, dan prespektif sosiologi.
Untuk lebih menambah wawasan kita dalam memahami sosiologi teman-teman dapat membaca tentang paradigm sosiologi.
Paradigma Sosiologi :
1. Paradigma Fakta sosial
Dikembangkan oleh oleh Emile Durkheim 1895 teori yang mendukung dalam paradigm ini adalah teori fungsional struktural, teori konflik, teori sosiologi makro dan teori system. Sedangkan kajian Paradigma Fakta sosial yaitu struktur sosial dan pranata sosial. Stuktur sosial adalah jaringan hubungan sosial dimana interaksi sosial terjadi secara terorganisir melalui posisi sosial individu dan sub kelompok. Sedangkan pranata sosial adalah norma dan nilai
2. Definisi sosial
Dikembangkan oleh Max Weber, teori-teori yang tergabung dalam definisi sosial yaitu fenomenologi, interaksionisme simbolik, entometodologi dan dramaturgi.
3. Prilaku sosial
Obyek sosiologi adalah prilaku manusia yang mempelajari hubungan antar individu dan lingkunganya.
Demikianlah pengantar awal mengenai kajian sosiologi, sebagai langkah awal pada modul ini anda diminta memahami pemikiran dari tokoh-tokoh awal sosiologi dan bidang kajian dari sosiologi sebagai suatu bidang ilmu

Pembinaan Minat Baca

KONSEP PERPUSTAKAAN DALAM MASYARAKAT

Kegiatan Belajar 1
Pengertian Perpustakaan

Upaya untuk meningkatkan kecerdasan bangsa tidak harus selalu melalui jalur pendidikan formal saja, akan tetapi dapat juga melalui jalur pendidikan nonformal. Oleh karena itu, diperlukan adanya sarana komunikasi informasi ilmu pengetahuan untuk disampaikan kepada masyarakat yaitu perpustakaan.

Perpustakaan merupakan pusat terkumpulnya berbagai informasi dan ilmu pengetahuan baik yang berupa buku maupun bahan rekaman lainnya yang diorganisasikan untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat pemakai perpustakaan. Pentingnya perpustakaan diorganisasikan dengan baik agar memudahkan pemakai dalam menemukan informasi yang dibutuhkannya, karena bahan-bahan yang ada di perpustakaan itu sebenarnya adalah himpunan ilmu pengetahuan yang diperoleh umat manusia dari masa ke masa.

Tugas pokok perpustakaan adalah menyediakan, mengolah, memelihara dan mendayagunakan koleksi bahan pustaka, menyediakan sarana pemanfaatannya dan melayani masyarakat pengguna yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan. Untuk mendukung tugas pokok tersebut, perpustakaan melaksanakan fungsinya antara lain pendidikan, informatif, penelitian, dan rekreatif.

Kegiatan Belajar 2
Jenis Perpustakaan

Setiap perpustakaan mempunyai tujuan, organisasi, anggota, dan kegiatan yang berlainan. Oleh karena adanya perbedaan dalam tujuan, organisasi induk, anggota dan kegiatannya maka timbullah berbagai jenis perpustakaan. Terdapat beberapa jenis perpustakaan, yaitu perpustakaan internasional, perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan perguruan tinggi.

Perpustakaan umum adalah lembaga layanan informasi dan bahan bacaan kepada masyarakat, oleh karena adanya masyarakat umum (yang tidak dibedakan lapisan, golongan, lapangan pekerjaan, dan lain-lain) yang akan menggunakan dan menjadi sasaran layanan perpustakaan. Perpustakaan umum memiliki tujuan utama yaitu memberikan kesempatan bagi umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik, menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat, murah bagi masyarakat, serta membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh instansi atau lembaga, baik pemerintah maupun swasta yang berfungsi sebagai pusat penelitian dan referensi serta sarana untuk memperlancar pelaksanaan tugas instansi atau lembaga yang bersangkutan. Perpustakaan khusus mempunyai tujuan untuk memberikan layanan informasi demi kepentingan dan kelancaran tugas lembaga induknya, karena perpustakaan khusus merupakan bagian dari suatu lembaga atau badan yang integral dari lembaga yang bersangkutan. Oleh karena itu, perpustakaan khusus mengkhususkan diri dalam mengumpulkan dan menyebarkan literatur bidang ilmu pengetahuan atau sekelompok bidang ilmu pengetahuan saja.

Perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah, oleh sekolah, dan untuk kepentingan proses belajar mengajar di sekolah. Dalam pelayanannya, perpustakaan sekolah harus mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan siswa, ataupun pendidik dan dapat menunjang kurikulum baik yang berhubungan dengan kegiatan intrakurikuler maupun yang berhubungan dengan kegiatan ekstrakurikuler.

Perpustakaan perguruan tinggi adalah suatu unit kerja yang merupakan bagian integral dari suatu lembaga perguruan tinggi induknya, bersama-sama dengan unit kerja bagian lainnya, tetapi dalam peranan yang berbeda. Bertugas membantu perguruan tinggi yang bersangkutan dalam melaksanakan program Tri Dharmanya.


MODUL 2
ASPEK-ASPEK PEMBINAAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUATU SISTEM

Kegiatan Belajar 1
Pembinaan Perpustakaan sebagai Suatu Sistem

Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1989 telah menetapkan, bahwa Perpustakaan Nasional adalah lembaga nonpemerintah dan nondepartemen. Sejak peralihan status ini maka tugas untuk membentuk, membina dan mengembangkan sistem nasional perpustakaan di Indonesia menjadi tanggung jawab Perpustakaan Nasional RI.

Untuk menjamin kelangsungan dan pendayagunaan perpustakaan di dalam penyelenggaraannya harus dapat tercipta suasana dan mekanisme kerja yang efektif dan efisien guna mencapai tujuan yang diharapkan. Manajemen perpustakaan kegiatannya meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan atau lebih dikenal dengan istilah POAC yaitu singkatan dari Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Dalam pelaksanaan manajemen perpustakaan, terdapat satu hal yang tidak kalah pentingnya yaitu administrasi.

Pelaksanaan administrasi perpustakaan merupakan aktivitas yang meliputi kepemimpinan, perencanaan dan perumusan kebijaksanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan suatu perpustakaan. Administrasi perpustakaan adalah fungsi-fungsi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang dioperasionalisasikan kepada kegiatan-kegiatan rutin perpustakaan. Program kerja adalah suatu schedule atau pentahapan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam mencapai sasaran organisasi untuk tujuan tertentu yang telah ditetapkan.

Kegiatan Belajar 2
Sarana, Prasarana, dan Anggaran Perpustakaan

Kemampuan staf dalam memberikan layanan kepada pemakai perpustakaan merupakan usaha untuk mencapai tujuan dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pendidikan masyarakat melalui sumber-sumber informasi yang tersedia. Oleh sebab itu, untuk menunjang kelancaran penyelenggaraan perpustakaan sesuai dengan tujuan dan fungsinya diperlukan staf yang mampu mengelola perpustakaan tersebut.

Empat unsur pokok yang selalu terdapat dalam setiap jenis perpustakaan adalah (1) gudang; (2) alat-alat bibliografi dan pembantu (katalog, indeks, staf pembimbing atau penasihat); (3) ruang untuk para pengunjung; dan (4) ruang staf. Setiap perencanaan yang dilakukan harus mempertimbangkan keempat unsur tersebut, yaitu bagaimana letak dan hubungannya antara satu dengan lainnya.

Jumlah masyarakat yang akan dilayani oleh perpustakaan menentukan juga berapa besar ruang yang harus disediakan baginya, terutama dalam menyediakan ruang-ruang baca dan belajar. Berapa luas ruangan yang dapat disediakan untuk setiap pembaca bergantung sepenuhnya pada alat-alat dan perabot-perabot yang ditempatkan dalam suatu ruang, terutama ruang-ruang baca dan belajar.

Di perpustakaan, sangat diperlukan pencahayaan yang memadai. Sumber penerangan di perpustakaan, yaitu cahaya alam dan cahaya buatan. Selain itu, sangat diperlukan tersedianya udara yang cukup dalam perpustakaan. Untuk itu, ventilasi yang cukup diperlukan untuk pemeliharaan bahan-bahan dan kesehatan para petugas perpustakaan dan pembaca. Pemasangan ventilasi yang baik berarti pula pemberian udara yang segar. Selain itu, di perpustakaan perlu diciptakan ketenangan sehingga tidak mengganggu kegiatan pengunjung sehingga seluruh pikiran dan perhatiannya dapat dikonsentrasikan.

Sarana perabot adalah sarana perpustakaan yang dipergunakan secara tidak langsung dalam proses pelayanan pemakai perpustakaan, tetapi merupakan kelengkapan yang harus ada untuk terselenggaranya perpustakaan. Sedangkan yang dimaksud dengan perlengkapan perpustakaan adalah barang-barang yang diperlukan secara langsung dalam mengerjakan tugas kegiatan di perpustakaan. Dalam menyediakan barang dan perabot tersebut tentunya diperlukan pengaturan dalam pembelanjaan yang biasa disebut penganggaran.

Penganggaran adalah suatu perhitungan mengenai kebutuhn untuk waktu yang akan datang yang disusun dengan dasar yang pasti yang meliputi sebagian atau seluruh kegiatan dalam jangka waktu tertentu. Melihat gerak dinamika organisasi dan kegiatan operasional perpustakaan sangat tergantung kepada situasi dan kondisi sekitarnya.

Setiap perpustakaan akan berhadapan dengan masalah bagaimana menyusun anggaran perpustakaan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk itu dikenal adanya istilah PPBS dan BS dalam sistem anggaran. PPBS merupakan singkatan dari Planning Programming Budgeting System. Kecuali PPBS ada pula sistem-sistem anggaran lainnya, seperti lump-sum, object of expenditure, line item budgeting system (BS), dan performance budgeting system. Di antara kesemua sistem anggaran tersebut, sistem yang paling dikenal dan populer adalah line item budgeting system (LIBS) dan lump-sum budgeting system.

BS merupakan singkatan dari Budgeting System yang berarti suatu penyusunan anggaran kebutuhan perpustakaan lengkap dengan perincian jumlah barang dan harganya untuk jangka waktu pendek, misalnya 1 sampai dengan 2 tahun. Oleh karena itu, sistem ini lebih dikenal dengan istilah LIBS. Pada hakikatnya LIBS ini merupakan apa yang diusulkan ke atas agar mendapatkan lump-sum yang lebih besar. Cara penyusunannya berdasarkan data dan visi pada masa lalu serta dipakai dasar untuk perhitungan pada masa yang akan datang.


MODUL 3
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN

Kegiatan Belajar 1
Pembinaan Koleksi Perpustakaan

Pembinaan koleksi merupakan faktor yang memegang peranan penting untuk menunjang fungsi dan tugas perpustakaan sebagai pusat sumber informasi. Selain itu, untuk menarik minat pembaca agar tetap mau mengunjungi perpustakaan adalah dengan memberikan pelayanan yang baik terhadap pengunjung oleh para pelaksana perpustakaan.

Beberapa faktor yang harus diperhitungkan dalam pembinaan bahan pustaka agar dapat menunjang tercapainya peningkatan pengetahuan masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber informasi dan untuk meningkatkan pelayanan perpustakaan tersebut, antara lain:

  1. keadaan daerah dan masyarakat di mana perpustakaan berada (ekologi setempat);
  2. sistem pendidikan nasional dan objektivitas sekolah setempat, karena perpustakaan harus searah dengannya;
  3. sistem perpustakaan nasional dan apakah ia merupakan salah satu dari subsistem perpustakaan.

Ketiga faktor ini akan memberikan arah dan warna koleksi suatu perpustakaan yang bersangkutan. Keragaman koleksinya tidak hanya terbatas pada jenis dan isinya saja, tapi juga dalam penjenjangannya dari yang bersifat elementer, lebih maju, dan paling maju.

Secara garis besarnya pemrosesan bahan-bahan pustaka meliputi:

  1. pendaftaran bahan-bahan (administratif);
  2. pengklasifikasian dan pembuatan katalog (teknis).

Setelah kedua segi itu selesai dikerjakan, barulah bahan-bahan tersebut siap disusun pada rak-rak atau kabinet-kabinetnya. Hal ini berarti bahan-bahan tersebut telah siap untuk dipinjamkan dan disebarkan. Proses-proses tersebut meliputi:

  1. pemeriksaan bahan pustaka;
  2. inventarisasi atau pendaftaran;
  3. klasifikasi;
  4. katalogisasi.

Kegiatan Belajar 2
Pelayanan Perpustakaan

Pelayanan adalah proses atau kegiatan yang berkaitan dengan pendayagunaan koleksi dan fasilitas yang tersedia di perpustakaan. Dengan kata lain, pelayanan merupakan proses berkesinambungan, suatu kegiatan yang terus-menerus dalam upaya mempertemukan koleksi dan fasilitas perpustakaan di satu pihak dengan masyarakat pemakai di pihak lain.

Pelayanan informasi adalah pelayanan yang bersifat memberi tahu para pemakai perpustakaan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan perpustakaan. Pelayanan tersebut meliputi tata cara penggunaan perpustakaan, alur kegiatan perpustakaan, dan pemberian informasi lainnya seperti buku baru, rencana promosi perpustakaan, pameran buku, dan sebagainya.

Pelayanan referensi adalah pelayanan pemberian bantuan secara langsung dan bersifat lebih personal oleh perpustakaan kepada masyarakat yang dilayani yang sedang mencari atau membutuhkan keterangan-keterangan tertentu.

Kegiatan Belajar 3
Memasyarakatkan Perpustakaan

Pemasyarakatan atau promosi perpustakaan adalah usaha-usaha atau tindakan-tindakan yang dilakukan untuk memberikan dorongan, penggalakkan atau untuk bantuan memajukan perpustakaan. Selain itu, dalam usaha pengembangan perpustakaan perlu juga dilakukan kerja sama antarperpustakaan..

Salah satu bentuk kerja sama antarperpustakaan adalah dengan melaksanakan jaringan kerja sama antarperpustakaan. Konsep jaringan sebenarnya merupakan perluasan konsep kerja sama perpustakaan. Kalau pada konsep kerja sama perpustakaan melibatkan dua perpustakaan atau lebih maka pada konsep jaringan meliputi dua perpustakaan atau lebih dan atau organisasi lain yang berkecimpung dalam pola bersama pertukaran informasi melalui komunikasi untuk keperluan fungsional. Kerja sama antarperpustakaan diperlukan karena tidak satu pun perpustakaan dapat berdiri sendiri. Dalam arti, koleksinya mampu memenuhi kebutuhan informasi pemakainya.

Dalam usaha meningkatkan minat baca perlu kita ketahui terlebih dahulu, bahwa tingkat kemampuan membaca sangat bervariasi dan sangat bergantung pada minat dan kesanggupan masyarakat pemakai perpustakaan.

Salah satu kegiatan yang sebaiknya dilakukan dalam kegiatan perpustakaan adalah bimbingan membaca. Fungsi utama bimbingan membaca adalah menolong pemakai untuk menafsirkan apa yang dibacanya dan bagaimana reaksinya terhadap bacaan tersebut. Pengguna harus didorong dan dibimbing dalam mengekspresikan reaksi mereka terhadap apa yang dibacanya dan diberi kebebasan untuk memilih pengertian dari ekspresinya sendiri. Dasar dari bimbingan membaca adalah pengetahuan pemakai secara individual, minat, kebutuhan, kemampuan, dan pengetahuannya terhadap materi bacaan itu sendiri.


MODUL 4
PEMBINAAN MINAT BACA

Kegiatan Belajar 1
Masyarakat sebagai Pemakai Perpustakaan

Pemakai perpustakaan adalah masyarakat umum. Ikatan mereka dengan perpustakaan semata-mata karena buku atau bahan bacaan. Oleh karena itu, tidak mudah bagi para petugas perpustakaan untuk membantu atau mengajak mereka agar bisa membaca. Setiap pemakai perpustakaan yang menggunakan bahan perpustakaan tertentu mempunyai kepentingan yang berbeda-beda.

Perpustakaan yang berada di tengah-tengah masyarakat mempunyai tujuan dan fungsi yang bermacam-macam, di antaranya adalah sebagai sarana pendidikan dan bahkan sering disebut sebagai “Universitas Masyarakat”. Belajar di perpustakaan merupakan suatu bentuk belajar melalui pengalaman. Belajar melalui pengalaman sering timbul karena adanya ketidakpuasan akan informasi yang diperoleh. Untuk mencapai suatu tingkat kepuasan akan pemahaman suatu informasi dibutuhkan suatu cara belajar yang kreatif agar tercapai suatu cara belajar yang efektif.

Produk belajar yang kreatif pada akhirnya adalah suatu pengembangan pembawaan dan penggunaan akal budi secara penuh dari masyarakat yang lambat laun melalui membaca menyadari, bahwa salah satu potensi yang dimilikinya harus dikembangkan untuk mencapai suatu hasil belajar. Sejalan dengan kedudukan perpustakaan itu sendiri maka terdapat implikasi lebih jauh bahwa perpustakaan sebagai tempat untuk mengembangkan proses belajar melalui membaca yang bermanfaat bagi masyarakat.

Fungsi perpustakaan menjadi berkembang sebagai tempat pemupuk minat baca. Fungsi perpustakaan bagi masyarakat adalah untuk memperdalam dan menelusuri berbagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kebutuhan hidupnya. Penguasaan konsep dasar yang baik memudahkan masyarakat untuk mengaplikasikan ilmunya pada situasi dan kondisi yang lebih berkembang yang akhirnya masyarakat akan memiliki inisiatif, daya kreatif, sikap kritis, rasional, dan objektif. Fungsi perpustakaan bagi masyarakat lainnya adalah untuk meningkatkan apresiasi seni dan sastra serta seni budaya lainnya melalui cara membaca di perpustakaan.

Kemampuan membaca merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh masyarakat yang sedang belajar. Salah satu tujuan belajar adalah mengakumulasi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan pada umumnya dihimpun, dicetak, dan dilestarikan dalam media cetak. Media cetak berfungsi sebagai individu kalau individu tersebut dapat membaca.

Kegiatan Belajar 2
Peran Perpustakaan dalam Membina Minat Baca

Secara umum minat dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan yang menyebabkan seseorang berusaha untuk mencari ataupun mencoba aktivitas-aktivitas dalam bidang tertentu. Minat juga diartikan sebagai sikap positif terhadap aspek-aspek lingkungan. Ada juga yang mengartikan minat sebagai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menikmati suatu aktivitas disertai dengan rasa senang. Minat mengandung arti keinginan memperhatikan atau melakukan sesuatu. Minat juga berarti sesuatu yang disenangi tanpa terikat atau terpaksa. Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata.

Membaca merupakan kemampuan dan keterampilan untuk membuat suatu penafsiran terhadap bahan yang dibaca. Yang dimaksud dengan kepandaian membaca tidak hanya menginterpretasikan huruf-huruf, gambar-gambar, dan angka-angka saja, akan tetapi yang lebih luas daripada itu ialah kemampuan seseorang untuk dapat memahami makna dari sesuatu yang dibacanya. Karena itulah membaca merupakan kegiatan intelektual yang dapat mendatangkan pandangan, sikap, dan tindakan yang positif. Fungsi dari membaca itu sendiri adalah dapat membuka cakrawala pengetahuan menjadi lebih luas, pengetahuan kita menjadi bertambah banyak sehingga menjadi manusia yang tidak picik.

Aspek minat membaca meliputi kesenangan membaca, kesadaran akan manfaat membaca, frekuensi membaca, dan jumlah buku bacaan yang pernah dibaca. Minat baca bukanlah sesuatu yang lahir begitu saja pada diri seseorang. Akan tetapi minat baca harus dipupuk dan dibina semenjak masih dini.

Pembinaan minat baca merupakan suatu jenis pelayanan perpustakaan dalam membantu dan memberi guidance kepada para pengunjung atau masyarakat yang dilayani oleh perpustakaan. Pembinaan minat baca ini bertujuan untuk mengembangkan minat dan selera dalam membaca, terampil dalam menyeleksi, dan menggunakan buku, mampu mengevaluasi materi bacaan dan memiliki kebiasaan efektif dalam membaca informasi, serta memiliki kesenangan membaca.

Pembinaan minat baca meliputi empat macam kegiatan, yaitu merencanakan program penumbuhan dan pengembangan minat baca, mengatur pelaksanaan program, mengendalikan pelaksanaan program serta menilai pelaksanaan program penumbuhan dan pengembangan minat baca, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Pembinaan minat baca merupakan proses yang berkelanjutan untuk membantu individu agar minat bacanya tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, tujuan umum pembinaan minat baca adalah mengembangkan minat baca masyarakat dan beberapa tujuan khusus yang dalam pencapaiannya perlu kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait.

Pada dasarnya pembinaan minat baca mempunyai tiga fungsi utama, yaitu sebagai sumber kegiatan, pedoman pelaksanaan kegiatan, dan tolok ukur atau parameter keberhasilan upaya menumbuhkembangkan minat baca.


MODUL 5
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT BACA

Kegiatan Belajar 1
Motivasi yang Mempengaruhi Pembinaan Minat Baca

Manusia akan terdorong untuk melakukan sesuatu bila dirasakan kebutuhan yang ada pada dirinya belum terpenuhi (menuntut pemenuhan). Motivasi itu merupakan daya yang dapat merangsang atau mendorong manusia untuk mengadakan kegiatan dalam memenuhi kebutuhan guna mencapai tujuan yang diharapkan. Motif dan motivasi berkaitan erat dengan penghayatan suatu kebutuhan berperilaku tertentu untuk mencapai tujuan. Motif menghasilkan mobilisasi energi (semangat) dan menguatkan perilaku seseorang.

Setidak-tidaknya ada dua indikator dalam motivasi berprestasi (tinggi), yaitu kemampuan dan usaha. Namun, bila dibandingkan dengan atribusi intrinsik dari Wainer, ada tiga indikator motivasi berprestasi tinggi, yaitu kemampuan, usaha, dan suasana hati (kesehatan). Jadi, hakikat motivasi berprestasi adalah rangsangan-rangsangan atau daya dorong yang ada dalam diri individu yang mendasari individu untuk belajar dan berupaya mencapai prestasi yang diharapkan.

Dengan demikian, apabila seseorang mengadakan suatu kegiatan itu berarti berkat adanya motivasi baik yang timbul dalam dirinya maupun pengaruh dari luar dirinya, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

Dalam pembinaan minat baca, fungsi motivasi lebih menekankan kepada pemberian dorongan atau motivasi yang sifatnya datang dari lingkungan luar. Dalam hal ini perpustakaan harus menstimulisasi dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk belajar. Oleh karena itu, motif yang ada pada diri seseorang perlu dibina sedini mungkin, dalam hal ini pustakawan harus dapat menstimulisasi agar motif untuk membaca yang ada pada diri seseorang dapat bekerja dengan efektif untuk mencapai suatu tujuan.

Motivasi internal dan faktor internal yang mempengaruhi pembinaan minat baca antara lain kurangnya tenaga pengelola perpustakaan, kurangnya dana pembinaan minat baca, terbatasnya bahan pustaka, kurang bervariasinya jenis layanan perpustakaan, terbatasnya perabot dan peralatan perpustakaan, serta kurang strategisnya lokasi perpustakaan.

Motivasi eksternal dan faktor-faktor eksternal juga mempengaruhi pembinaan minat baca. Yang termasuk faktor-faktor eksternal antara lain kurang terbinanya jaringan kerja sama pembinaan minat baca antarperpustakaan, belum banyaknya sektor-sektor swasta yang menunjang pembinaan minat baca, dan belum semua penulis berpartisipasi dalam pembinaan minat baca.

Faktor sosiologi pembaca turut pula memperlancar proses membaca seseorang. Misalnya faktor sarana membaca.

Kegiatan Belajar 2
Tahapan Membaca dan Pembinaan Pemakai Perpustakaan

Pengalaman menunjukkan adanya keragaman pengertian tentang membaca sehingga kekurangtepatan pengertian ini akan membawa dampak terhadap kebiasaan membaca. Salah satu rumusan pengertian membaca adalah proses penginterpretasian simbol dan pemberian makna terhadapnya. Dalam rumusan ini terdapat tiga unsur yang berkaitan, yaitu simbol, interpretasi, dan makna. Simbol merupakan bahan pokok suatu bacaan yang pada umumnya diasosiasikan dengan huruf, kata, kalimat, dan tanda bacaan. Keakraban pembaca terhadap simbol-simbol bacaan ini akan mempengaruhi proses interpretasi terhadapnya. Sudah barang tentu sajian bahan atau simbol ini terkait dalam bahasa sajian yang disebut bahasa tulisan. Yang harus dipahami betul adalah kemampuan dalam menemukan konsep berpikir pengarang di balik uraian yang tertulis. Apabila hal ini telah ditemukan dan disusun dengan kalimat sendiri maka makna suatu tulisan akan mudah dirumuskan dan lama tersimpan dalam daya ingatan.

Untuk dapat mengetahui tingkat kemampuan dalam membaca, kiranya perlu diketahui tahapan-tahapan dalam membaca. Dari sini dapat diketahui tingkat seseorang dalam cara membacanya serta tingkat pemahaman literatur atau bacaannya. Berkaitan dengan tahap perkembangan membaca dan hubungannya dengan jenis bahan bacaan, terdapat tahapan membaca, antara lain pramembaca, pengenalan awal membaca dan decoding, konfirmasi dan kelancaran, serta membaca untuk mempelajari hal-hal baru. Selain itu, teknik membaca perlu dikuasai di antaranya teknik pendekatan yang didasarkan kepada konteks membaca.

Kemudian yang harus dipahami juga adalah faktor-faktor yang menghambat dalam pembinaan minat baca, di antaranya timbul karena belum terbiasa membaca. Kemampuan membaca adalah kemampuan yang merupakan hasil latihan dari pembiasaan sehingga diperoleh tahap-tahap yang tinggi keefektifannya. Kebiasaan membaca sehari-hari adalah penentu dalam latihan.


MODUL 6
PEMBINAAN MINAT BACA DI INDONESIA

Kegiatan Belajar 1
Pembinaan Minat Baca melalui Lingkungan Keluarga

Wajah masa depan sebuah negeri dapat dilihat dari bagaimana kualitas anak-anak masa kini. Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat mempengaruhi kualitas mental dan spiritual anak, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh televisi, buku, dan media massa.

Memperkenalkan bacaan pada anak sejak kecil dapat meningkatkan prestasi anak di sekolah. Karena itu, pentingnya orang tua mengapresiasikan budaya baca pada anak dengan memberi contoh. Agar anak tidak bosan membaca, sebaiknya anak-anak diberi buku-buku lucu dan berwarna-warni, serta bacaan sesuai usianya. Memperkenalkan budaya membaca pada usia sedini mungkin akan memberikan hasil yang lebih optimal daripada menunggu sampai anak sudah lebih besar dan lebih menyukai budaya menonton TV. Selain orang tua, media massa dan pemerintah juga memegang peranan penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sejak kecil. Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir.

Berbicara tentang gemar membaca berarti kita dihadapkan pada masalah bagaimana menumbuhkan kegemaran membaca kemudian meningkatkan kegemaran terutama di lingkungan sekitar kita sendiri.

Pembinaan minat baca di lingkungan keluarga meliputi, antara lain sebagai berikut.

  1. Pemberian contoh atau keteladan membaca dari orang tua di rumah.
  2. Penyediaan bahan bacaan di rumah.
  3. Pemberian hadiah ulang tahun anak berupa buku atau bahan bacaan lainnya.
  4. Orang tua mengajak anak-anaknya pergi meminjam buku di perpustakaan.
  5. Orang tua mengajak anak-anaknya pergi menyewa buku di persewaan buku.
  6. Orang tua mengajak anak-anaknya membaca buku di perpustakaan desa.
  7. Orang tua mengajak anak-anaknya membaca buku di perpustakaan tempat ibadah (mesjid, gereja, vihara, dan pura).
  8. Orang tua mengajak anak-anaknya ke toko buku.
  9. Orang tua membaca buku untuk anaknya sebelum tidur.
  10. Orang tua menyelenggarakan perpustakaan keluarga.

Kegiatan Belajar 2
Pembinaan Minat Baca melalui Perpustakaan Umum dan Sekolah

Selain sumber yang didapatkan di luar sekolah, sumber utama dalam belajar di sekolah adalah perpustakaan, karena perpustakaan sekolah merupakan sumber dari segala kegiatan belajar dan mengajar. Perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah berguna untuk menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal tingkat sekolah, baik sekolah dasar maupun sekolah lanjutan. Perpustakaan memiliki kedudukan yang utama di dalam setiap program pendidikan sebagai the heart of the educational program. Perpustakaan sekolah harus menjadi pusat kegiatan yang berlangsung di sekolah. Perpustakaan sekolah diadakan bukan lagi hanya sekadar melayani selera para siswa untuk membaca buku-buku, tetapi perpustakaan itu sendiri harus dapat membantu para siswa mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, melahirkan kecekatan, serta membantu siswa dalam aktivitas-aktivitas yang kurikuler dan ekstra kurikuler.

Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan mempunyai tugas dalam mengatur fasilitas pendidikan seperti penyediaan sarana perpustakaan. Dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penyediaan dana, pemenuhan fasilitas perpustakaan, kerja sama, evaluasi terhadap efisiensi dan efektivitas pelayanan perpustakaan.

Guru adalah orang yang bergaul setiap hari secara langsung dengan siswa di kelas melalui proses belajar mengajar. Pengayaan proses belajar mengajar di kelas hanya akan terjadi apabila guru pandai menggunakan peluang dan kesempatan agar siswa senantiasa aktif mengikuti pelajaran dengan menyertakan berbagai sumber belajar yang tersedia dan mungkin untuk didayagunakan.

Staf perpustakaan adalah orang-orang yang secara fungsional mempunyai tanggung jawab baik secara langsung atau tidak langsung bagi pelayanan perpustakaan. Bagaimanapun lengkapnya koleksi dan fasilitas perpustakaan, kalau tidak ditangani oleh personal yang memadai maka kekayaan yang tersedia di perpustakaan akan kurang mempunyai makna dan arti.

Pelayanan merupakan kunci sukses dalam penyelenggaraan perpustakaan. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab profesional setiap petugas perpustakaan untuk senantiasa memiliki motivasi yang kuat, wawasan yang luas, dan senantiasa berupaya secara aktif agar dapat melaksanakan pelayanan sebaik-baiknya. Selain itu, pustakawan harus mampu memberikan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan para pemakai, di mana siswa sebagai pihak yang paling berkepentingan untuk dilayani perlu mendapatkan pelayanan yang memadai sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Perpustakaan umum, baik yang berupa perpustakaan provinsi, perpustakaan kabupaten/kota, perpustakaan desa, maupun perpustakaan keliling disediakan sebagai sarana public service yang dapat mendorong kegemaran dan kebiasaan membaca guna menambah pengetahuan masyarakat untuk memajukan kesejahteraan pribadi, memajukan pendidikan seumur hidup, ekonomi serta sosial. Namun, yang menjadi pertanyaan mampukah perpustakaan-perpustakaan umum kita yang ada sekarang ini memberikan pelayanan sebaik-baiknya dalam hal bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan pemakai yang beraneka ragam? Sudahkah semua masyarakat dari kota hingga ke pedesaan dapat menikmati jasa perpustakaan secara wajar?

Di sinilah peran pustakawan, keadaan perpustakaannya yang serba kekurangan sudah tentu selalu dituntut untuk bersikap aktif, kreatif, progresif dalam menjalankan misi perpustakaan secara nasional bahkan internasional.

Jikalau masyarakat telah tertarik untuk menggunakan jasa-jasa perpustakaan maka pustakawan sebagai pemberi jasa harus berusaha memberikan pelayanan sebaik-baiknya dengan sikap ramah dan sopan santun agar menimbulkan kesan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat pemberi jasa yang bersifat edukatif. Kebutuhan pemakai akan bahan-bahan pustaka harus mendapat perhatian sesuai dengan keinginan pemakai sehingga menimbulkan kepercayaan bahwa perpustakaan betul-betul merupakan sumber ilmu dan sumber informasi

Peran Perpustakaan dalam Membina Minat Baca

Peran Perpustakaan dalam Membina Minat Baca

Pembinaan Minat Baca melalui Lingkungan Keluarga

Wajah masa depan sebuah negeri dapat dilihat dari bagaimana kualitas anak-anak masa kini. Secara umum ada tiga lingkungan yang sangat mempengaruhi kualitas mental dan spiritual anak, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan sosial budaya yang berhubungan dengan nilai-nilai serta norma-norma yang berlaku di masyarakat, termasuk di dalamnya pengaruh televisi, buku, dan media massa.

Memperkenalkan bacaan pada anak sejak kecil dapat meningkatkan prestasi anak di sekolah. Karena itu, pentingnya orang tua mengapresiasikan budaya baca pada anak dengan memberi contoh. Agar anak tidak bosan membaca, sebaiknya anak-anak diberi buku-buku lucu dan berwarna-warni, serta bacaan sesuai usianya. Memperkenalkan budaya membaca pada usia sedini mungkin akan memberikan hasil yang lebih optimal daripada menunggu sampai anak sudah lebih besar dan lebih menyukai budaya menonton TV. Selain orang tua, media massa dan pemerintah juga memegang peranan penting dalam menumbuhkan kebiasaan membaca sejak kecil. Pertumbuhan minat baca bisa dimulai sejak bayi lahir.

Berbicara tentang gemar membaca berarti kita dihadapkan pada masalah bagaimana menumbuhkan kegemaran membaca kemudian meningkatkan kegemaran terutama di lingkungan sekitar kita sendiri.

Pembinaan minat baca di lingkungan keluarga meliputi, antara lain sebagai berikut.

  1. Pemberian contoh atau keteladan membaca dari orang tua di rumah.
  2. Penyediaan bahan bacaan di rumah.
  3. Pemberian hadiah ulang tahun anak berupa buku atau bahan bacaan lainnya.
  4. Orang tua mengajak anak-anaknya pergi meminjam buku di perpustakaan.
  5. Orang tua mengajak anak-anaknya pergi menyewa buku di persewaan buku.
  6. Orang tua mengajak anak-anaknya membaca buku di perpustakaan desa.
  7. Orang tua mengajak anak-anaknya membaca buku di perpustakaan tempat ibadah (mesjid, gereja, vihara, dan pura).
  8. Orang tua mengajak anak-anaknya ke toko buku.
  9. Orang tua membaca buku untuk anaknya sebelum tidur.
  10. Orang tua menyelenggarakan perpustakaan keluarga.


Pembinaan Minat Baca melalui Perpustakaan Umum dan Sekolah

Selain sumber yang didapatkan di luar sekolah, sumber utama dalam belajar di sekolah adalah perpustakaan, karena perpustakaan sekolah merupakan sumber dari segala kegiatan belajar dan mengajar. Perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah berguna untuk menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal tingkat sekolah, baik sekolah dasar maupun sekolah lanjutan. Perpustakaan memiliki kedudukan yang utama di dalam setiap program pendidikan sebagai the heart of the educational program. Perpustakaan sekolah harus menjadi pusat kegiatan yang berlangsung di sekolah. Perpustakaan sekolah diadakan bukan lagi hanya sekadar melayani selera para siswa untuk membaca buku-buku, tetapi perpustakaan itu sendiri harus dapat membantu para siswa mengasah otak, memperluas dan memperdalam pengetahuan, melahirkan kecekatan, serta membantu siswa dalam aktivitas-aktivitas yang kurikuler dan ekstra kurikuler.

Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan mempunyai tugas dalam mengatur fasilitas pendidikan seperti penyediaan sarana perpustakaan. Dalam penyelenggaraan perpustakaan sekolah, kepala sekolah bertanggung jawab terhadap penyediaan dana, pemenuhan fasilitas perpustakaan, kerja sama, evaluasi terhadap efisiensi dan efektivitas pelayanan perpustakaan.

Guru adalah orang yang bergaul setiap hari secara langsung dengan siswa di kelas melalui proses belajar mengajar. Pengayaan proses belajar mengajar di kelas hanya akan terjadi apabila guru pandai menggunakan peluang dan kesempatan agar siswa senantiasa aktif mengikuti pelajaran dengan menyertakan berbagai sumber belajar yang tersedia dan mungkin untuk didayagunakan.

Staf perpustakaan adalah orang-orang yang secara fungsional mempunyai tanggung jawab baik secara langsung atau tidak langsung bagi pelayanan perpustakaan. Bagaimanapun lengkapnya koleksi dan fasilitas perpustakaan, kalau tidak ditangani oleh personal yang memadai maka kekayaan yang tersedia di perpustakaan akan kurang mempunyai makna dan arti.

Pelayanan merupakan kunci sukses dalam penyelenggaraan perpustakaan. Oleh karena itu, merupakan tanggung jawab profesional setiap petugas perpustakaan untuk senantiasa memiliki motivasi yang kuat, wawasan yang luas, dan senantiasa berupaya secara aktif agar dapat melaksanakan pelayanan sebaik-baiknya. Selain itu, pustakawan harus mampu memberikan pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan para pemakai, di mana siswa sebagai pihak yang paling berkepentingan untuk dilayani perlu mendapatkan pelayanan yang memadai sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Perpustakaan umum, baik yang berupa perpustakaan provinsi, perpustakaan kabupaten/kota, perpustakaan desa, maupun perpustakaan keliling disediakan sebagai sarana public service yang dapat mendorong kegemaran dan kebiasaan membaca guna menambah pengetahuan masyarakat untuk memajukan kesejahteraan pribadi, memajukan pendidikan seumur hidup, ekonomi serta sosial. Namun, yang menjadi pertanyaan mampukah perpustakaan-perpustakaan umum kita yang ada sekarang ini memberikan pelayanan sebaik-baiknya dalam hal bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan pemakai yang beraneka ragam? Sudahkah semua masyarakat dari kota hingga ke pedesaan dapat menikmati jasa perpustakaan secara wajar?

Di sinilah peran pustakawan, keadaan perpustakaannya yang serba kekurangan sudah tentu selalu dituntut untuk bersikap aktif, kreatif, progresif dalam menjalankan misi perpustakaan secara nasional bahkan internasional.

Jikalau masyarakat telah tertarik untuk menggunakan jasa-jasa perpustakaan maka pustakawan sebagai pemberi jasa harus berusaha memberikan pelayanan sebaik-baiknya dengan sikap ramah dan sopan santun agar menimbulkan kesan bahwa perpustakaan adalah suatu tempat pemberi jasa yang bersifat edukatif. Kebutuhan pemakai akan bahan-bahan pustaka harus mendapat perhatian sesuai dengan keinginan pemakai sehingga menimbulkan kepercayaan bahwa perpustakaan betul-betul merupakan sumber ilmu dan sumber informasi.

PELESTARIAN, MACAM SIFAT BAHAN PUSTAKA, DAN LATAR BELAKANG SEJARAHNYA

Pengantar, Tujuan dan Fungsi Pelestarian

Bahan pustaka adalah salah satu unsur penting dalam sebuah sistem perpustakaan, sehingga harus dilestarikan mengingat nilainya yang mahal. Bahan pustaka di sini berupa terbitan buku, berkala (surat kabar dan majalah), dan bahan audiovisual seperti audio kaset, video, slide dan sebagainya.

Pelestarian bahan pustaka tidak hanya menyangkut pelestarian dalam bidang fisik, tetapi juga pelestarian dalam bidang informasi yang terkandung di dalamnya.

Maksud pelestarian ialah mengusahakan agar bahan pustaka yang kita kerjakan tidak cepat mengalami kerusakan. Bahan pustaka yang mahal, diusahakan agar awet, bisa dipakai lebih lama dan bisa menjangkau lebih banyak pembaca perpustakaan.

Tujuan pelestarian bahan pustaka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. menyelamatkan nilai informasi dokumen
  2. menyelamatkan fisik dokumen
  3. mengatasi kendala kekurangan ruang
  4. mempercepat perolehan informasi

Pelestarian bahan pustaka memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:

  1. melindungi
  2. pengawetan
  3. kesehatan
  4. pendidikan
  5. kesabaran
  6. sosial
  7. ekonomi
  8. keindahan

Berbagai unsur penting yang perlu diperhatikan dalam pelestarian bahan pustaka adalah:

  1. manajemen
  2. tenaga yang merawat bahan pustaka
  3. laboratorium
  4. dana

Sejarah Bahan Pustaka dan Cara Perawatannya

Bahan pustaka terdiri atas berbagai jenis dan bermacam sifat yang dimilikinya. Dari sejarahnya, manusia menggunakan berbagai medium untuk merekam hasil karya mereka. Bahan yang dipergunakan sesuai dengan pengetahuan manusia serta teknologi pada zamannya.

Bahan yang dikenal sebagai medium perekam hasil budaya manusia adalah: (1) tanah liat, (2) papyrus, (3) kulit kayu, (4) daun tal atau lontar, (5) kayu, (6) gading, (7) tulang, (8) batu, (9) logam (metal), (10) kulit binatang, (11) pergamen (parchmental) dan vellum, (12) leather (kulit), (13) kertas, (14) papan, (15) film, (16) pita magnetik, (17) disket, (18) video disk dan lain-lain. Semua bahan di atas bisa digolongkan sebagai bahan pustaka.

Pustakaan dewasa ini terbuat dari kertas. Sedangkan di masa mendatang mungkin isi sebuah perpustakaan berupa kumpulan disket, karena teknologi komputer memungkinkan demikian.

Kertas bisa dibuat dari berbagai serat yaitu:

  1. serat binatang
  2. serat bahan mineral
  3. serat sintetis
  4. serat keramik
  5. serat tumbuh-tumbuhan.

Kekuatan kertas tergantung dari kekuatan serat sebagai bahan dasarnya.

Bahan pustaka yang lain ialah bahan non-buku yang juga disebut bahan audiovisual, media teknologi, alat peraga dan sebagainya. Materi bahan non-buku begitu bervariasi. Karena itu dalam memelihara bahan non-buku diperlukan berbagai keahlian dan keterampilan khusus. Kita harus memahami apa yang disebut dengan hardware atau perangkat keras dan software atau perangkat lunak. Harus kita fahami cara meng-operasikan peralatan, cara memperbaiki kalau ada kerusakan, dan bisa memeliharanya sehingga bahan-bahan tersebut awet dan lestari.

Macam Perusak Bahan Pustaka

Selain manusia dan hewan, debu, jamur, zat kimia dan alam semesta juga bisa merusak bahan pustaka. Agar bahan pustaka tidak lekas rusak, setiap pustakawan harus mengetahui cara-cara merawat bahan pustaka. Karena itu, setiap pustakawan hendaknya mengetahui cara menyusun kembali dan mengangkut buku untuk dikembalikan ke rak, cara mengontrol buku yang dikembalikan oleh pembaca apakah pembaca merusakkan buku atau tidak. Mencegah masuknya binatang mengerat dan serangga ke perpustakaan juga merupakan hal penting yang harus diketahui seorang pustakawan. Begitu pula cara menghindari debu masuk ke perpustakawan cara, mengontrol suhu dan kelembaban ruangan.

Tempatkan kapur barus dan akar “loro setu” di antara buku-buku agar serangga segan menghampirinya. Yang paling baik ialah menyediakan ruangan khusus untuk perbaikan bahan pustaka dengan petugasnya sekaligus, sehingga kalau diperlukan perbaikan bahan pustaka, dapat dikerjakan dengan cepat. Jangan menunggu kerusakan menjadi lebih berat.

Cepatlah bertindak, jagalah selalu kebersihan dan kerapihan sehingga mengundang pembaca untuk memakai perpustakaan dengan baik, dan bagi pustakawan sendiri akan semakin senang bekerja dengan baik.

Perbaikan Bahan Pustaka dan Restorasi

Sebagai pustakawan kita harus dapat memperbaiki dokumen yang rusak, baik itu kerusakan kecil maupun kerusakan berat. Perpustakaan sebaiknya memiliki ruangan khusus untuk melakukan pekerjaan ini. Menambah buku berlubang oleh larva kutu buku atau sebab lainnya, menyambung kertas yang robek, atau menambal halaman buku yang koyak adalah pekerjaan yang mesti dapat dikerjakan. Mengganti sampul buku yang rusak total, menjilid kembali, atau mengencangkan penjilidan yang kendur adalah pekerjaan yang harus dikuasai oleh seorang restaurator. Berbagai macam kerusakan yang lain yang mungkin terjadi, tidak boleh ditolak oleh bagian pelestarian ini. Peralatan yang diperlukan, serta bahan dan cara mengerjakan perbaikan ini harus dipelajari benar-benar oleh seorang pustakawan atau teknisi bagian pelestarian.

PENCEGAHAN KERUSAKAN BAHAN PUSTAKA

Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka

Setiap pustakawan harus dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan pustaka. Kerusakan itu dapat dicegah jika kita mengetahui faktor-faktor yang menjadi penyebabnya.

Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka bermacam-macam bisa oleh manusia, oleh tikus, oleh serangga, dan lain-lain. Penggunaan sistem pengumpanan, peracunan buku, penuangan larutan racun ke dalam lubang rayap, memberikan lapisan plastik pada lantai dan menempatkan kapur barus di rak merupakan cara untuk dapat mencegah kerusakan bahan pustaka. Tentu saja pencegahan yang berhasil akan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi perpustakaan.

Dalam kegiatan belajar 2 dibicarakan cara mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur,oleh banjir,oleh api, dan oleh debu. Dalam mencegah kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur disarankan agar kelembaban udara ruangan harus dijaga tidak lebih dari 60% RH.

Kapur sirih,arang ,silicagel atau mesin penyerap uap air yang bernama DEHUMIDIFIER dapat digunakan untuk menyerap uap air. Pemeriksaan kelembaban udara ruangan dan pembubuhan obat anti jamur pada buku merupakan salah satu cara mencegah kerusakan bahan pustaka.

Pencegahan kerusakan bahan pustaka karena banjir dapat dilakukan dengan cara membersihkan lumpur dan pengeringan bahan pustaka. Hendaknya bahaya banjir bisa diantisipasi. Kerusakan oleh api dapat dicegah dengan menghindari kebakaran di antaranya dengan memeriksa kondisi kabel listrik secara rutin, penyediaan alat pemadam kebakaran, serta adanya aturan yang ketat misalnya dilarang merokok.

FUMIGASI, DEASIDIFIKASI, DAN LAMINASI

Fumigasi

Agar bahan pustaka bebas dari penyakit, kuman, serangga, jamur, dan lainnya, bahan pustaka perlu diasapkan dengan bahan kimia tertentu yang disebut dengan fumigasi. Dalam mengadakan fumigasi pustakawan harus memperhitungkan jumlah bahan yang akan difumigasi dan luas ruang yang diperlukan. Dengan memperhatikan ruang yang ada maka dipilih pula fumigant yang akan dipergunakan, jenis-jenis fumigant, jumlah yang diperlukan serta lama fumigasi.

Pustakawan juga harus memperhatikan bahaya dari pemakai zat-zat kimia untuk fumigasi. Tidak satu pun bahan kimia dapat dipakai tanpa alat pengaman, atau tanpa supervisi oleh orang yang berpengalaman dalam bidang ini.

Menghilangkan Keasaman pada Kertas

Keasaman yang terkandung dalam kertas menyebabkan kertas itu cepat lapuk, terutama kalau kena polusi. Bahan pembuat kertas merupakan bahan organik yang mudah bersenyawa dengan udara luar. Agar pengaruh udara tersebut tidak berlanjut, maka bahan pustaka perlu dilaminasi. Agar laminasi efektif, sebelum dikerjakan, bahan pustaka dihilangkan atau diturunkan tingkat keasamannya. Ada dua cara menghilangkan keasaman pada bahan pustaka, yaitu cara kering dan cara basah. Sebelum ditentukan cara yang mana yang tepat, maka perlu diukur tingkat keasaman pada dokumen. Ada berbagai alat pengukur tingkat keasaman dokumen yang dibicarakan dalam bahan pustaka ini, sehingga pustakawan dapat memilih cara mana yang paling mungkin untuk dikerjakan sesuai dengan kondisinya.

Tinta yang dipergunakan untuk menulis bahan pustaka sangat menentukan apakah bahan pustaka akan dihilangkan keasamannya secara basah, atau secara kering. Kalau tinta bahan pustaka luntur, maka cara keringlah yang paling cocok. Kalau menggunakan cara basah, harus diperhatikan cara pengeringan bahan pustaka yang ternyata cukup sukar dan harus hati-hati. Kalau hanya sekedar mengurangi tingkat keasaman kertas dan tidak akan dilaminasi, kiranya cara kering lebih aman, sebab tidak ada kekhawatiran bahan pustaka robek. Cara kering ini dapat diulang setiap enam bulan, sampai bahan pustaka dimaksud sudah kurang keasamannya dan dijamin lebih awet.

Laminasi dan Enkapsulasi

Setelah kertas dihilangkan atau dikurangi sifat asamnya, maka untuk memperpanjang umur bahan pustaka perlu diadakan pelapisan atau laminasi, terutama bahan pustaka yang lapuk atau robek sehingga menjadi tampak kuat atau utuh kembali. Ada 2 cara laminasi yaitu laminasi dengan mesin dan dengan cara manual.

Pertimbangan yang perlu diambil dalam melaminasi suatu bahan adalah bahan tersebut harus bersih dan dikurangi tingkat keasamannya. Cara lain selain laminasi adalah enkapsulasi. Enkapsulasi adalah salah satu cara melindungi kertas dari kerusakan fisik misalnya rapuh karena umur. Yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan enkapsulasi adalah kertas harus bersih, kering dan bebas asam.

PENJILIDAN

Mengenal Bahan Jilidan

Buku bukan merupakan tumpukan kertas yang berdiri sendiri, tapi merupakan struktur yang satu sama lain saling terikat. Struktur buku terdiri atas: segi, foredge, kertas hujungan, badan buku, papan jilidan, ikatan timbul, groove, tulang pita kapital dan sebagainya. Agar struktur itu tidak lepas satu sama lainnya, maka buku perlu dijilid.

Perlengkapan penjilidan meliputi: pisau, palu, pelubang, gunting, tulang pelipat, penggaris besi, kuas, gergaji, jarum, benang, pengepres, pemidang jahit, mesin potong dan sebagainya.

Mutu kualitas jilid selain ditentukan oleh kemahiran dalam bekerja juga ditentukan oleh bahan yang digunakan.

Bahan penjilid meliputi kertas, kain linen, perekat, benang dan kawat jahit. Arah serat kertas merupakan hal yang penting bagi pekerjaan penjilidan. Arah serat yang salah akan mengakibatkan jilidan tidak rapi dan lemah.

Menyiapkan Penjilidan dan Jenis-jenis Penjilidan

Sebelum dijilid, buku perlu dipersiapkan secara baik. Kekeliruan atau kekurangan dalam persiapan, dapat berakibat fatal dan mengecewakan. Juga merupakan pemborosan jika harus dijilid ulang. Persiapan penjilidan meliputi dua hal yaitu: (1) penghimpunan kertas-kertas atau bahan pustaka, (2) penggabungan. Penghimpunan harus dikerjakan secara teliti, jangan salah mengurutkan nomor halaman. Kalau majalah, jangan salah mengurutkan nomor penerbitannya. Panjang-pendek, serta lebar kertas harus disamakan. Rapihkan sisi sebelah kiri agar pemotongan dan perapihan dapat dikerjakan untuk ketiga sisi yang lain. Petunjuk penjilidan harus disertakan, agar hasilnya sesuai dengan yang kita kehendaki.

Dalam melakukan penggabungan kita harus melihat jilidan macam apa yang dikendaki sesuai dengan slip petunjuk penjili dan.

Ada lima macam jilidan yang dapat dipilih: (1) jilid kaye, (2) signature binding, (3) jilid lem punggung, (4) jilid spiral, (5) jilid lakban.


PETA, SLIDE, FOTO KOPI DAN TINTA

Pelestarian Koleksi Peta

Peta merupakan salah satu sumber informasi untuk menunjang penelitian, pendidikan, maupun untuk keperluan bisnis. Karena itu ada bermacam-macam jenis peta, misalnya peta geografis, peta perdagangan, peta bahasa, peta navigasi, peta hasil bumi dan sebagainya.

Pelestarian koleksi peta merupakan pengetahuan yang harus dimiliki oleh petugas perpustakaan maupun oleh petugas bagian pelestrian. Peta adalah bahan pustaka yang unik, sebab bentuk dan ukuran, serta informasi yang terkandung di dalamnya begitu beraneka ragam. Dengan banyaknya bentuk dan ukuran tersebut maka diperlukan ruang penyimpanan yang beragam pula.

Berbagai jenis kerusakan pada peta antara lain kerusakan karena faktor kimiawi dan kerusakan karena faktor mekanis.

Slide

Slide merupakan salah satu jenis bahan audio-visual yang banyak dipergunakan di perpustakaan terutama untuk mendukung pengajaran dan penelitian.

Slide juga memerlukan pemeliharaan secara hati-hati. Tempat penyimpanan harus bebas dari cahaya langsung dari luar, debu serta kelembaban. Slide yang berserakan akan mudah rusak karena kena debu serta goresan.

Slide tidak dapat dibaca dengan mata telanjang. Untuk membaca slide, harus menggunakan alat yang disebut proyektor. Karena itu proyektor harus selalu dirawat agar slidenya dapat dimanfaatkan setiap saat.

Foto Kopi dan Tinta

Dewasa ini banyak perpustakaan menggunakan foto kopi terutama untuk melestarikan koleksinya yang sudah rusak dan langka, sehingga bisa dipinjamkan pada pemakai. Tetapi foto copi sebagai sarana pelestarian dokumen masih kontroversi.

Tinta ternyata merupakan komponen pembuat buku yang sangat penting dan beraneka ragam. Sejak 2.500 tahun Sebelum Masehi tinta sudah dikenal oleh bangsa Mesir dan bangsa Cina. Sampai ditemukannya mesin cetak pada pertengahan abad ke-15, tinta tulis memiliki peranan yang paling penting dalam produksi buku. Setelah mesin cetak diketemukan, bentuk tintanyapun menyesuaikan dengan keperluan percetakan. Tentu saja banyak variasi soal kualitas, warna dan harganya. Tiga macam jenis tinta ialah: 1) tinta tulis, 2) tinta ball point dan 3) tinta cetak.

Tinta juga dapat meningkatkan keasaman pada kertas, sehingga dengan jenis tinta tertentu misalnya iron gall dapat merusak kertas dengan cepat.


PELESTARIAN NILAI INFORMASI


Bentuk Mikro

Dalam mengatasi kekurangan tempat atau ruangan di perpustakaan dan juga melestarikan informasi dari buku-buku yang sudah lapuk, maka diperlukan alih bentuk dokumen. Alih bentuk yang terkenal ialah bentuk mikro atau lazim disebut mikrofilm. Kelebihan bentuk mikro adalah: hemat ruang, aman dari pencurian, mudah direproduksi dan murah, mudah diakses, akurat dan ekonomis.

Kekurangan bentuk mikro, misalnya harus memakai alat baca yang harganya cukup mahal, dan selalu berubah mutu serta semakin mahalnya alat baca menjadi kendala bagi perpustakaan. Membaca dengan alat baca yang kaku mengurangi kenyamanan pembacanya. Untuk mengatasi hal tersebut diberikan alternatif membuat hard copy yang dapat dibaca dan dibawa sekehendak pembacanya.


CD-ROM (Compact Disk-Read Only Memory)

Teknologi video disk, yang semula dicobakan untuk pelestarian di The Library of Congress tahun 1982, ternyata telah berkembang lebih maju untuk penyimpanan, pengolahan, dan penemuan informasi yang handal dewasa ini.

Sebagai pustakawan di zaman modern ini kiranya tidak salah kalau Anda mempunyai gambaran mengenai teknologi informasi yang memberikan banyak harapan bagi produksi, pengolahan, pemakaian dan pelestarian informasi. Kemudahan untuk menemukan kembali informasi yang telah disimpan dalam disk, misalnya dalam bentuk CD-ROM inilah yang memberikan prospek cerah bagi perkembangan layanan perpustakaan.

Sesuai dengan namanya, data atau informasi digital yang sudah direkam di dalam CD-ROM tidak dapat dihapus atau ditambah pemakai, tetapi hanya dapat dibaca saja oleh pemakai.

Beberapa keunggulan dari CD-ROM:

  1. merupakan sarana penyimpanan informasi berkapasitas tinggi
  2. memudahkan penelusuran literatur
  3. tahan terhadap gangguan elektromagnetis
  4. bagi perpustakaan CD-ROM memudahkan pembuatan katalog
  5. mempercepat penerbitan


PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA DI BERBAGAI NEGARA


Keadaan Pelestarian Bahan Pustaka di Inggris

Tokoh kawakan Languell yang menerbitkan bukunya tahun 1957 memberikan gagasan tentang perlunya pelestarian bahan perpustakaan pada masa itu. Melalui diskusi dan pertemuan tahunan dari asosiasi perpustakaan di Inggris, mereka semakin yakin bahwa bagian pelestarian makin diperlukan. Dengan bukunya yang baru terbit tahun 1991 John Feather melukiskan bahwa kegiatan pelestarian bahan pustaka tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan manajemen koleksi perpustakaan. Buku ini semakin memberikan kepercayaan bagi pustakawan di Inggris, bahwa bagian pelestarian sangat diperlukan. Berbagai masalah yang mereka hadapi, misalnya tentang mahalnya buku dan terbatasnya anggaran perpustakaan mengharuskan pustakawan untuk berpaling kepada pelestarian.

Faktor pendukung yang ada di Inggris, misalnya lengkapnya jenis bahan kimia untuk menghilangkan berbagai musuh bahan pustaka, tersedianya pengusaha komersial dalam bidang penjilidan atau dalam bidang pelestarian, memberikan kesempatan kepada para pustakawan untuk memilih cara terbaik dalam pelestarian bahan pustaka yang sesuai dengan kondisi di tempat mereka. Banyaknya perpustakaan rujukan yang telah berhasil melakukan program pelestarian seperti The British Library atau Universitas Cambridge, merupakan tempat yang baik bagi para pustakawan di Inggris untuk belajar langsung ke lapangan.


Keadaan Pelestarian di USA

Banyaknya faktor pendukung menyebabkan sistem pelestarian di Amerika Serikat sangat maju. Faktor pendukung tersebut di antaranya, para pakar yang dengan rajin memberikan konsultasi dan menuliskan pengalaman mereka pada majalah profesional maupun dalam bentuk buku yang jelas dan mudah diikuti. Persaingan sehat antara para pakar menimbulkan gairah kerja bagi mereka para pustakawan bagian pelestarian. Faktor pendukung yang lain ialah adanya penyangga dana dari yayasan atau pemerintah federal untuk proyek atau program pelestarian yang baik.

Faktor selanjutnya ialah adanya laboratorium yang dimiliki oleh perpustakaan besar, dan percobaan-percobaan yang mereka lakukan demi kemajuan bidang pelestarian. Adanya kepeloporan yang tangguh dalam menciptakan tenaga pelestarian terdidik, dari waktu ke waktu dan dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi.

Faktor pendukung lainnya ialah kesediaan bekerja sama antara perpustakaan yang satu dengan yang lain baik dari suatu daerah lokal, regional, sampai tingkat nasional. Sistem komunikasi yang mudah dan murah mendukung terselenggaranya kerja sama dalam pelestarian tersebut.


Keadaan Pelestarian di Puerto Rico (Amerika Latin)

Iklim daerah tropis sangat tidak mendukung pelestarian bahan pustaka. Haydee Munoz Sola memberikan gambaran program pelestarian yang ada di kampus Medical Services University of Puerto Rico di Rico Piedras. Sebelum masuk kepada permasalahannya ia menceritakan sedikit tentang sejarah perpustakaan dan sejarah pelestarian. Iklim tropis dengan berbagai ciri-cirinya yang dapat merusakkan koleksi perpustakaan dan banyaknya kendala yang harus dihadapi oleh perpustakaan di daerah tropis termasuk kurangnya anggaran untuk menyelenggarakan program pelestarian. Kemudian ia menceritakan letak geografis Puerto Rico yang banyak bencana alam seperti badai, banjir, angin puyuh dan sebagainya.

Perpustakaan kesehatan Puerto Rico memiliki koleksi khusus yang disebut The Ashford Collection, yang memiliki 3000 dokumen yang berupa buku dan korespondensi. Dokumen ini sangat penting untuk penelitian penyakit di daerah tropis. Karena itu perlu diawetkan.


ORGANISASI, LEMBAGA RISET, DAN LEMBAGA PENDIDIKAN BIDANG PELESTARIAN

Organisasi Lokal, Nasional, dan Internasional

Organisasi Bidang Pengawetan sangat berjasa dalam mengembangkan bidang ini. Mereka menyelenggarakan seminar, workshop dan pertemuan atau diskusi lainnya. Banyak buku petunjuk dibuat untuk disebarluaskan oleh organisasi ini. Begitu pula latihan keterampilan banyak diberikan oleh para organisasi tersebut.

Ada tiga macam organisasi bidang pelestarian yaitu: (1) organisasi lokal, (2) organisasi nasional, (3) organisasi internasional.

Yang dimaksud dengan organisasi lokal ialah organisasi yang sifatnya hanya berlaku lokal, menurut daerah-daerah tertentu. Di Indonesia tidak ada organisasi semacam ini.

Organisasi pelestarian yang bersifat nasional di Indonesia juga belum ada.


Lembaga Riset, dan Pendidikan Teknisi/Profesional

Lembaga riset penting untuk mendukung kehidupan dan perkembangan suatu profesi. Karena itu, kita sering menemukan R & D yang artinya Research & Development, sepasang kata yang bergandengan sebagai suatu sebab akibat dari suatu kegiatan. Penelitian diadakan untuk mencapai suatu perkembangan. Begitu pula dalam profesi pelestarian dan pengawetan dokumen, perlu diadakan berbagai penelitian untuk memperoleh perkembangan dalam bidang tersebut. Saat ini di Indonesia belum memiliki lembaga riset bidang pelestarian.

Jurusan ilmu perpustakaan Fakultas Sastra UI memberikan pendidikan pelestarian sebagai satu mata kuliah saja berjudul: Pelestarian dan Pemeliharaan Bahan Perpustakaan untuk program S1, S2 dan S0 perpustakaan dan D III Kearsipan.

Ada tiga jenis tenaga dalam bidang pelestarian yaitu:

  1. Pustakawan untuk pelestarian, yang mengepalai Bagian Pelestarian di perpustakaan.
  2. Konservator, yaitu orang yang langsung bertanggung jawab untuk memperbaiki dokumen.
  3. Teknisi Bidang Konservasi.


Rencana Pembentukan Bagian Pelestarian untuk Perpustakaan

Dalam menentukan kebijakan program pelestarian, kita harus selalu melihat kepada keadaan fisik bahan perpustakaan. Ini dipergunakan sebagai titik tolak perbaikan, menentukan lama, dan skala prioritas pelestarian. Bagian pelestarian tidak kalah penting dengan bagian-bagian lain di perpustakaan. Bagian ini memang sangat penting untuk dimiliki karena dapat meningkatkan mutu pelayanan perpustakaan. Dengan adanya

bagian ini diharapkan sewaktu-waktu buku diperlukan sudah tersedia di rak. Kalau ada kerusakan cepat dapat diperbaiki.

Selanjutnya faktor-faktor lain yang harus diperhatikan ialah keadaan koleksi perpustakaan, apakah koleksi tersebut sudah memenuhi kebutuhan pembaca, apakah koleksi tersebut banyak rusak atau koleksi tersebut tidak perlu dilestarikan. Faktor kedua adalah penggunaan koleksi secara padat atau tak pernah digunakan sama sekali. Faktor selanjutnya ialah tuntutan pemakai yang selalu menghendaki koleksi yang rapih. Faktor bangunan dan ruangan tempat menyimpan buku juga diperhatikan. Dalam melestarikan koleksi ada tiga hal yang diperhatikan yaitu: 1) Bahan apa saja yang perlu dilestarikan?, 2) Untuk berapa lama bahan dilestarikan?, 3) Alat-alat apa yang dipergunakan untuk melestarikan? Dalam melestarikan bahan pustaka kita harus melihat: 1) subjek, 2) format, 3) usia bahan, 4) penggunaan bahan.

Mengenai lama bahan dilestarikan itu tergantung dari keperluan perpustakaan. Pembentukan suatu program pelestarian di suatu perpustakaan dapat dimulai setelah semua fihak dari bagian-bagian lain perpustakaan menyetujuinya.

Sesudah semuanya jelas, maka dapat disusun pedoman tentang kebijakan pelestarian yang dapat dipakai oleh pihak pimpinan untuk membentuk program pelestarian di perpustakaan tersebut untuk kepentingan pelestarian.

Program pelestarian bahan perpustakaan di suatu perpustakaan tidak akan sama dengan program pelestarian yang dimiliki perpustakaan lain. Karena itu suatu model yang paling canggih pun tidak akan dapat memenuhi keperluan bagi semua perpustakaan

pengantar ilmu perpustakaan

PENGERTIAN PERPUSTAKAAN

Kegiatan Belajar 1
Definisi Perpustakaan

Pustaka atau buku atau kitab merupakan kumpulan kertas atau bahan sejenis berisi hasil tulisan atau cetakan, dijilid menjadi satu agar mudah membacanya serta berjumlah sedikitnya 48 halaman. Dari kata pustaka terbentuklah kata turunan antara lain perpustakaan, pustakawan, kepustakawanan, kepustakaan, dan ilmu perpustakaan.

Perpustakaan adalah kumpulan buku atau bangunan fisik tempat buku dikumpulkan, disusun menurut sistem tertentu untuk kepentingan pemakai.

Pustakawan adalah orang yang bekerja di perpustakaan dan memiliki pendidikan perpustakaan (minimal D2 dalam bidang Ilmu Perpustakaan).

Kepustakawanan adalah penerapan Ilmu Perpustakaan dalam hal pengadaan, pengolahan, pendayagunaan dan penyebaran bahan pustaka di perpustakaan.

Fungsi perpustakaan adalah: penyimpanan, pendidikan, penelitian, informasi, dan kultural.

Sedangkan kepustakaan adalah: bahan perpustakaan yang digunakan untuk menyusun karangan, makalah, artikel, laporan dan sejenisnya.

Kegiatan Belajar 2
Hubungan Ilmu Perpustakaan, Dokumentasi dan Arsip

Dalam kegiatan belajar dua ini, kita melihat bahwa di samping kegiatan perpustakaan, ada pula kegiatan bidang lain yang mirip bahkan tumpang tindih dengan kegiatan perpustakaan. Kedua bidang itu adalah dokumentasi dan arsip.

Dokumentasi merupakan kegiatan yang semula tumbuh akibat tumbuhnya majalah ilmiah, sementara perpustakaan tidak dapat menangani informasi yang muncul dari majalah ilmiah. Hal ini nampak jelas di Eropa Barat sehingga di samping kegiatan perpustakaan, muncul pula kegiatan dokumentasi yang mengkhususkan diri pada pengolahan isi majalah. Salah satu negara Eropa Barat yang mengalami munculnya dokumentasi ialah Belanda. Karena Belanda pernah menjajah Indonesia, maka Belanda pun memperkenalkan sistem dokumentasi yang ada di negeri Belanda pada Indonesia. Karena di negeri Belanda kegiatan dokumentasi berbeda dengan kegiatan perpustakaan, maka hal tersebut nampak pula pengaruhnya di Indonesia. Hingga kini di Indonesia masih ada perbedaan antara dokumentasi dengan perpustakaan.

Perbedaan tersebut kurang nampak di AS karena penanganan isi majalah dilakukan oleh pustakawan yang bekerja di perpustakaan khusus sehingga di Amerika Serikat makna dokumentasi identik dengan kegiatan perpustakaan.

Dalam perkembangan selanjutnya definisi dokumentasi, seperti yang dinyatakan oleh Federasi Dokumentasi dan Informasi Nasional (FID), mencakup sedemikian rupa sehingga isinya luas sekali. Karena itu untuk memudahkan pembahasan, diberikan tabel perbedaan kegiatan dokumentasi dan perpustakaan.

Perkembangan perpustakaan dimulai dengan pengumpulan berbagai berkas niaga, pahatan, tulisan tangan dan sejenisnya. Dengan dikenalnya teknik pembuatan buku, maka perpustakaan mulai memusatkan diri pada kegiatan pengadaan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, temu balik, dan pendayagunaan buku. Sebagai sebuah pranata masyarakat, perpustakaan juga menghasilkan berbagai berkas, manuskrip, namun seringkali kedua bahan tersebut tidak dianggap sebagai cakupan perpustakaan. Maka di bagian tersebut muncullah kearsipan. Dibandingkan dengan kegiatan dokumentasi, maka kegiatan perpustakaan jelas berbeda dibandingkan dengan kegiatan arsip. Hal ini dibeberkan secara jelas pada tabel dalam modul.

MODUL 2
SEJARAH PERPUSTAKAAN

Kegiatan Belajar 1
Sejarah Perpustakaan di Dunia Barat

Kapan perpustakan mulai berdiri tidak pernah diketahui dengan pasti. Namun berdasarkan penelitian arkeologis, perpustakaan telah dikenal sejak peradaban Sumeria sekitar 5.000 tahun Sebelum Masehi. Perkembangan perpustakaan tersebut segera ditiru negara tetangganya seperti Babilonia. Pada waktu itu orang-orang purba menggunakan bahan tulis berupa tanah liat. Mula-mula tanah liat diempukkan, kemudian dibuat lempengan. Sewaktu masih lunak, tanah liat ditulisi, kemudian dikeringkan.

Kerajaan Pergamum berusaha mengembangkan perpustakaan sebagaimana halnya dengan raja-raja Mesir. Karena waktu itu belum ditemukan mesin cetak, maka pembuatan naskah dilakukan dengan cara menyalin. Usaha menyalin naskah dikembangkan oleh kerajaan Pergamum dengan menggunakan bahan tulis berupa papirus. Untuk mencegah agar perpustakaan Pergamum tidak menjadi saingan perpustakaan Iskandaria yang berada di Mesir, maka Mesir menghentikan ekspor papirus ke Pergamum.

Guna menggantikan papirus, Pergamum mengembangkan bahan tulis berupa kulit binatang yang dikeringkan, kemudian ditulis. Kulit yang digunakan terbuat dari kulit domba, sapi disebut parchmen. Parchmen yang baik disebut vellum merupakan bahan tulis hingga abad menengah.

Kegiatan menyalin naskah ini dilakukan pula di pertapaan, sampai pertapaan menyediakan tempat khusus untuk menulis dan menyalin naskah disebut scriptorium. Pertapaan bahkan mengembangkan naskah yang dihiasi dengan gambar miniatur, menggunakan huruf indah disertai dengan warna merah, biru dan emas. Lukisan pada naskah kuno dengan hiasan dan warna-warni itu disebut iluminasi.

Orang-orang Eropa menemukan mesin cetak sekitar abad ke-15. Pada awal penemuan mesin cetak, buku dicetak dengan teknik sederhana. Buku yang dicetak dengan teknik pencetakan sederhana, dicetak antara tahun 1450-1500, disebut incunabula, merupakan buku langka yang banyak dicari orang.

Kegiatan Belajar 2
Sejarah Perpustakaan di Indonesia

Perkembangan Perpustakaan pada zaman Hindia Belanda:

1. Perpustakaan Gereja: Perpustakaan Gereja adalah jenis perpustakaan yang pertama kali berdiri pada zaman ini. Perpustakaan gereja yang pertama didirikan sekitar tahun 1643.
2. Perpustakaan Penelitian: Perpustakaan penelitian tumbuh seiring dengan dikeluarkannya kebijakan Tanam Paksa. Akibat dari Tanam Paksa ini banyak berdiri lembaga penelitian yang membutuhkan informasi tentang tanaman.
3. Perpustakaan Sekolah: Pada zaman penjajahan Belanda banyak sekolah-sekolah yang dilengkapi dengan perpustakaan. Pada masa ini pemakai perpustakaan sekolah tidak hanya siswa dan guru tetapi juga masyarakat umum.
4. Perpustakaan Umum: Perpustakaan umum pada masa ini hanya memberi perhatian pada bahasa daerah dengan menyediakan koleksi dalam bahasa daerah setempat. Sebelum pemerintah Hindia Belanda mendirikan Perpustakaan Umum, pihak swasta telah mendirikan ruang baca untuk umum. Masyarakat dapat membaca koleksi yang ada, secara cuma-cuma. Selain ruang baca umum pada masa ini juga berkembang Perpustakaan Sewa.

Perkembangan Perpustakaan pada Zaman Jepang

Pada masa ini perpustakaan di Indonesia mengalami kehancuran, karena Jepang melarang semua buku yang ditulis dalam bahasa Inggris, Perancis dan Belanda. Mereka juga menangkapi semua orang Belanda termasuk Perpustakaan Belanda.

Perkembangan Perpustakaan setelah Kemerdekaan

Perpustakaan Negara: Pada tahun 1948 pemerintah Republik Indonesia mendirikan Perpustakaan Negara yang pertama.

Perpustakaan Umum: Perpustakaan Umum pada masa ini dikenal dengan nama Taman Pustaka Rakyat.

Kegiatan Belajar 3
Prinsip kepustakaan

Prinsip Kepustakaan adalah:

1. Perpustakaan diciptakan oleh masyarakat.
Berdasarkan penelitian sejarah, diketahui bahwa tujuan perpustakaan selalu berkaitan dengan tujuan masyarakat.
Perpustakaan selalu berusaha untuk menyimpan dan menyebarkan karya dan pengetahuan masyarakat.
2. Perpustakaan dilestarikan oleh masyarakat.
Karena perpustakaan diciptakan oleh masyarakat, maka masyarakat pulalah yang melestarikannya.
3. Perpustakaan bertujuan menyimpan dan menyebarluaskan pengetahuan. Selama ini perpustakaan selalu merupakan gudang ilmu pengetahuan tempat menyimpan hasil karya dari para cerdik pandai. Selain itu perpustakaan juga menyebarluaskan ilmu pengetahuan tersebut dengan cara meminjamkan buku-buku yang dimilikinya pada masyarakat umum.
4. Perpustakaan merupakan pusat kekuatan.
5. Perpustakaan terbuka bagi siapa saja.
Perpustakaan umum telah ada sejak abad 7 sebelum Masehi.
6. Perpustakaan harus tumbuh berkembang.
7. Perpustakaan selalu berkembang dari waktu ke waktu, tidak hanya dari segi bangunan saja, tetapi juga jumlah koleksi dan jenis pelayanannya.
8. Perpustakaan Nasional harus berisi semua literatur nasional, dengan tambahan literatur nasional negara lain.
9. Setiap buku selalu berguna.
10. Setiap pustakawan haruslah manusia yang berpendidikan.
Pustakawan sejak zaman dahulu adalah orang-orang cerdik.
11. Peranan seorang pustakawan hanya dapat menjadi penting bilamana peranan tersebut sepenuhnya diintegrasikan ke dalam sistem sosial dan politik yang berlaku.
12. Seorang pustakawan memerlukan pendidikan, pelatihan dan magang.
13. Tugas pustakawan untuk menambah koleksi perpustakaannya.
14. Sebuah perpustakaan harus disusun menurut aturan tertentu, dan harus dibuatkan daftar koleksinya.
15. Perpustakaan merupakan gudang pengetahuan, maka koleksi perpustakaan harus disusun menurut subjek.
16. Kemampuan praktis akan menentukan bagaimana subjek-subjek dikelompokkan di perpustakaan.
17. Perpustakaan harus memiliki katalog subjek.

MODUL 3
PUSTAKAWAN SEBAGAI TENAGA PROFESIONAL

Kegiatan Belajar 1
Pustakawan Sebagai Tenaga Profesional

Profesi bermakna lain dengan pekerjaan. Profesi memerlukan syarat pendidikan dan pelatihan berdasarkan batang tubuh ilmu pengetahuan yang diakui oleh bidang yang bersangkutan.

Konsep profesi secara ilmiah mulai dibahas pada abad 17 bersamaan dengan terjadinya Revolusi Industri. Revolusi Industri yang terjadi di Inggris ternyata melahirkan berbagai profesi baru, tidak dikenal sebelumnya. Sebelum itu hanya ada empat profesi tradisional yaitu pendeta atau biarawan, dokter, pengacara dan perwira angkatan darat. Kini profesi semakin bertambah.

Untuk dapat memenuhi syarat sebuah profesi maka harus ada beberapa tolok ukur yang harus dipenuhi yaitu:

1. adanya asosiasi
2. pendidikan
3. isi intelektual
4. orientasi pada jasa
5. kode etik
6. tingkat kemandirian
7. status

Pustakawan memenuhi syarat sebagai tenaga profesional karena keenam unsur tersebut di atas dapat dipenuhi. Pustakawan mengenal organisasi profesi, mengenal tingkat pendidikan pada universitas mulai dari program sarjana, magister hingga doktor, di dalam pendidikan diberikan bermacam-macam pelajaran baik teori maupun praktik, sebahagian di antaranya berlandaskan teori yang semakin berkembang; orientasi pustakawan adalah memberikan jasa tanpa mengharapkan imbalan uang; ada tingkat kemandirian sebagai sebuah organisasi profesi dan statusnya sebagai tenaga fungsional telah diakui pemerintah RI.

Dalam pembagian pekerjaan, dikenal tugas profesional dan non-profesional. Tugas profesional dilakukan oleh pustakawan sedangkan tugas non-profesional dilakukan oleh mereka yang tidak memperoleh pendidikan khusus kepustakawanan.

Pemisahan tugas antara profesional dengan non-profesional terlihat dalam berbagai pekerjaan perpustakaan seperti pada administrasi umum, manajemen kepegawaian, hubungan masyarakat, pemilihan bahan perpustakaan, pengadaan bahan perpustakaan, penyiangan, pengkatalogan, klasifikasi, penerbitan, pelestarian, tugas informasi, bimbingan pembaca serta tugas peminjaman. Pada kesemua tugas tersebut terdapat perbedaan jelas antara tugas profesional dengan tugas non-profesional.

Kegiatan Belajar 2
Organisasi Profesi

Organisasi pustakawan telah lama ada di Inggris maupun Amerika Serikat. Pada kedua negara itu organisasi pustakawan telah berdiri sejak tahun 1876. Karena usia yang cukup tua itu, maka kedua organisasi pustakawan berhasil memperjuangkan hak-hak pustakawan; termasuk pengakuan pustakawan sebagai tenaga profesional serta ketentuan tentang gaji. Kedua organisasi itu juga menerbitkan majalah yang dibagi-bagikan secara cuma-cuma untuk anggotanya.

Di samping organisasi pustakawan umum, ada pula organisasi pustakawan yang bekerja di perpustakaan khusus dan biro organisasi. Di Inggris, organisasi itu dikenal dengan nama ASLIB, singkatan dari Association of Special Libraries and Information Bureaux, sedangkan di AS bernama Special Library Association.

Di samping organisasi yang berskala nasional, ada pula organisasi berskala lokal, terutama di AS. Di negara tersebut, setiap negara bagian memiliki organisasi lokal. Hal demikian tidak terdapat di Inggris. Berbagai organisasi pustakawan membentuk federasi organisasi.

MODUL 4
JENIS-JENIS PERPUSTAKAAN

Kegiatan Belajar 1
Mengapa Terjadi Berbagai Jenis Perpustakaan

Adanya berbagai jenis perpustakaan terjadi karena timbulnya berbagai jenis media seperti media tercetak (buku, majalah, laporan, surat kabar) dan media grafis/elektronik seperti film, foto, mikrofilm, video, pertumbuhan literatur yang cepat dan banyak, pertumbuhan subjek dalam arti terjadi fusi berbagai subjek artinya satu subjek pecah menjadi beberapa subjek dan sebaliknya beberapa subjek melebur menjadi subjek baru. Alasan lain, karena kebutuhan pemakai yang berlainan, misalnya keperluan informasi seorang anak SD akan berbeda dengan seorang peneliti kawakan walaupun objeknya sama, misalnya tentang keruntuhan Majapahit.

Karena hal-hal tersebut di atas maka muncullah berbagai jenis perpustakaan seperti perpustakaan internasional, perpustakaan nasional, perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus dan perpustakaan umum. Masing-masing perpustakaan memiliki ciri tersendiri, khalayak ramai yang dilayaninya jelas berbeda, terkecuali perpustakaan umum. Karena itu perpustakaan umum memegang peranan penting dalam pemberian jasa bagi umum sehingga Unesco (sebuah badan PBB) perlu mengeluarkan Manifesto Perpustakaan Umum. Dalam manifesto tersebut dinyatakan bahwa perpustakaan umum terbuka bagi siapa saja tanpa membeda-bedakan ras, kedudukan, warna kulit, agama, kepercayaan, usia, jenis kelamin.

Kegiatan Belajar 2
Badal Lain yang Bergerak dalam Bidang Informasi

Di samping perpustakaan, masih ada pranata lain yang bergerak dalam bidang pengadaan, pengolahan dan pemencaran informasi. Kegiatan lembaga tersebut tidak selalu terpisah dari perpustakaan, malahan bekerja sama memenuhi kebutuhan informasi pemakai.

Lembaga lain di samping perpustakaan yang bergerak dalam bidang informasi adalah pusat informasi, pusat analisis informasi; pusat dokumentasi, pusat referal, clearing house. Di samping itu masih ada pula focal point, national focal point dan bank data. Pada bank data, tekanan utama lebih banyak pada penyediaan data, bukannya informasi maupun dokumen. Sebagai contoh sebuah buku membahas tentang produksi padi Indonesia dari tahun 1969-1993. Keterangan tentang dokumen itu disebut informasi dokumen sedangkan data diambil dari dokumen itu. Jadi bank data menyajikan data tentang panen padi di Indonesia, namun tidak menyediakan informasi tentang dokumen yang memuat data tersebut.

MODUL 5
KERJASAMA DAN JARINGAN PERPUSTAKAAN

Kegiatan Belajar 1
Kerjasama Perpustakaan

Kerja sama antarperpustakaan adalah kerja sama yang melibatkan dua perpustakaan atau lebih. Kerja sama ini timbul karena pertumbuhan majalah yang luar biasa banyaknya terutama selama satu abad terakhir ini. Pertumbuhan ilmu pergetahuan yang menimbul-kan berbagai cabang ilmu dengan sendirinya muncullah berbagai buku dan majalah dalam disiplin baru tersebut, meluasnya kesempatan pendidikan sehingga semakin banyak orang yang memerlukan informasi, kemajuan dalam bidang teknologi informasi; semakin tingginya kesadaran akan perlunya kerja sama serta tuntutan pemakai yang menghendaki informasi yang cepat, tepat dan murah.

Bentuk kerja sama itu berupa kerja sama pengadaan, spesialisasi subjek, penyimpanan, pertukaran penerbitan, redistribusi terbitan, kerja sama pengolahan, penyediaan fasilitas, penyusunan katalog induk serta tukar-menukar pengalaman antara sesama pustakawan.

Kawasan kerja sama dapat berupa kawasan lokal seperti terbatas pada sebuah propinsi. Regional artinya terbatas pada sebagai sebuah negara misalnya kawasan Indonesia Timur, Indonesia Barat. Nasional artinya mencakup seluruh negara dan regional, misalnya terbatas pada kawasan Asia Tenggara saja atau Asia Timur bahkan juga Asia Pasifik serta internasional.

Kegiatan Belajar 2
Jaringan Informasi

Pengertian jaringan mencakup beberapa arti, tergantung pada sudut pandang masing-masing. Di kalangan pustakawan, pengertian jaringan dapat mengacu pada perangkat keras, perangkat lunak, proyek, badan maupun sistem komunikasi.

Seringkali istilah jaringan perpustakaan dibedakan dengan istilah kerja sama perpustakaan. Istilah jaringan merupakan bentuk lain dari kerja sama perpustakaan dengan tambahan penggunaan teknologi telekomunikasi dan komputasi. Definisi lain mengatakan, jaringan informasi mencakup berbagai badan tidak saja perpustakaan, melainkan badan lain yang juga bergerak dalam bidang informasi seperti pusat dokumentasi, pusat referal, pusat analisis informasi dan sejenisnya.

Di Indonesia, jaringan dokumentasi dan informasi dimulai pada tahun 1971 dengan pembentukan empat jaringan dokumentasi dan informasi, masing-masing dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, biologi dan pertanian, kedokteran dan kesehatan serta ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Kini jumlah tersebut berkembang. Bila dihitung jaringan dokumentasi dan informasi yang bergerak dalam bidang data bibliografis, maka jumlah tersebut berkutat sekitar duapuluhan. Ada jaringan dokumentasi dan informasi yang aktif, ada pula yang tidak aktif, ada jaringan yang diam selama beberapa tahun kemudian tiba-tiba muncul kembali. Dalam modul ini tidak dibahas jaringan informasi yang bergerak dalam bidang data numerik serta jaringan informasi pada tingkat regional dan internasional.

MODUL 6
JASA RUJUKAN DAN BUKU REFERENS

Kegiatan Belajar 1
Jasa Referens

Jasa referens dapat pula disebut jasa rujukan karena pada umumnya pustakawan harus merujuk pada bahan pustaka tertentu dalam menjawab pertanyaan pemakai.

Jasa referens dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu:

1. Jasa dasar: yang termasuk jasa ini adalah pemberian informasi umum, penyediaan informasi khusus, bantuan dalam menggunakan katalog dan jasa bantuan penggunaan buku rujukan.
2. Jasa yang lazim dilaksanakan: yang termasuk jasa ini adalah pinjam antarperpustakaan, tandon buku, orientasi perpustakaan serta instruksi bibliografi, kunjungan perpustakaan, menyelenggarakan pameran, jasa bimbingan pembaca, jasa pengindeksan dan abstrak, kompilasi bibliografi, dan lain-lain.
3. Jasa yang jarang dilakukan: yang termasuk jasa ini adalah pameran majalah mutakhir, reproduksi dokumen, jasa terjemahan dan jasa referal.

Kegiatan Belajar 2
Sumber Informasi dan terbitan pemerintah

Buku referens adalah buku yang menjadi acuan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan pemakai. Buku referens mempuyai beberapa ciri-ciri khusus, yaitu:

1. ditujukan untuk keperluan konsultasi
2. tidak dimaksudkan untuk dibaca secara tuntas
3. terdiri atas entri yang terpotong-potong
4. biasanya tidak dipinjamkan
5. disusun untuk memudahkan penelusuran secara cepat.

Buku referens merupakan buku yang digunakan untuk memberikan informasi seketika, lazimnya disimpan di bagian referens. Buku referens mencakup kamus, ensiklopedia, direktori, buku tahunan, peta, atlas dan terbitan pemerintah.

Terbitan pemerintah merupakan terbitan oleh pemerintah, dibiayai oleh anggaran negara berisi tentang kegiatan pemerintah, tugas, fungsi badan pemerintah serta pengumuman berbagai produk perundang-undangan.

MODUL 7
PENGOLAHAN BAHAN PUSTAKA

Kegiatan Belajar 1
Pengatalogan

Sesudah buku diterima di perpustakaan, buku kemudian dicatat dalam buku induk atau dalam bentuk lain. Setelah itu buku diolah, artinya dibuatkan katalog termasuk pembuatan kartu utama dan kartu tambahan serta pemberian nomor klasifikasi.

Kegiatan yang berkaitan dengan data yang terdapat pada buku disebut deskripsi bibliografi, dikenal pula dengan istilah katalogisasi, pengkatalogan maupun pengatalogan. Dalam deskripsi bibliografi, Anda harus menentukan pengarangnya, judul, edisi, keterangan tentang penerbitan, dikenal pula dengan nama impresum, pencatatan fisik seperti jumlah halaman, keterangan tentang ilustrasi, tinggi buku, semuanya disebut kolasi; penentuan seri serta penentuan jejakan.

Untuk membuat tajuk Anda menggunakan pedoman penentuan tajuk entri utama, baik menggunakan pedoman terbitan Indonesia maupun AACR 2. Untuk deskripsi lain, Anda menggunakan standar dengan nama International Standard for Bibliographic Description (Monograph), disingkat ISBD (M). Dari sini Anda membuat entri katalog lengkap, dikenal pula dengan nama kartu utama. Dari keterangan jejakan yang ada pada kartu utama, Anda membuat kartu tambahan. Gunanya jejakan ialah bila buku hilang atau rusak, maka katalog harus dicabut dari laci katalog. Pencabutan ini menggunakan pedoman kartu utama, karena dari kartu utama Anda dapat melacak kartu tambahan yang dibuat.

Kegiatan Belajar 2
Klasifikasi

Klasifikasi adalah pengelompokan berbagai benda menurut karakteristik tertentu. Klasifikasi yang digunakan di perpustakaan bukanlah klasifikasi ilmu pengetahuan, melainkan klasifikasi untuk pengetahuan yang direkam dalam bentuk buku. Sebelum muncul klasifikasi modern, perpustakaan menggunakan sistem klasifikasi buatan sendiri seperti pengelompokan buku menurut warna buku, warna punggung buku, menurut tebal tipisnya buku, menurut tinggi buku. Susunan demikian memang enak dipandang mata namun tidak mampu mengelompokkan buku menurut subjek yang sama. Maka muncullah klasifikasi khusus untuk buku di perpustakaan seperti Klasifikasi desimal Dewey, dikenal dengan singkatan DDC atau Dewey Decimal Classification. Ada pula UDC singkatan dari Universal Decimal Classification, Library of Confress Classification. Dari kesemua klasifikasi yang ada, maka klasifikasi yang paling populer di Indonesia adalah klasifikasi Dewey.

DDC terbagi atas sepuluh kelas utama, setiap kelas dibagi lagi menjadi sepuluh divisi, setiap divisi dibagi lagi menjadi sepuluh subdivisi dan seterusnya. Pembagian tersebut dilakukan secara desimal.

Angka yang digunakan sebagai wakil sebuah subjek disebut notasi. Notasi terbagi dua, yaitu notasi murni (hanya menggunakan angka atau huruf saja) dan notasi campuran, merupakan gabungan antara angka dan huruf.

Dalam kaitannya dengan klasifikasi, maka penyusunan buku di rak juga menurut nomor klasifikasi. Pengecualian akan hal ini terdapat pada buku referens yang disusun pada rak untuk buku rujukan disertai tanda huruf R; buku fiksi yang dikelompokkan pada buku fiksi dengan tanda F; buku biografi yang dikumpulkan menurut orang/tokoh yang dibuat biografi dengan tanda B; buku yang berukuran lebih dari 30 cm, ditempatkan pada buku berukuran lebih dari 30 cm, dikenal sebagai oversize books, lazimnya diberi tanda f dari kata Folio.

MODUL 8
PERATURAN DESKRIPSI BIBLIOGRAFI

Kegiatan Belajar 1
Deskripsi bibliografi

Pembuatan deskripsi bibliografi bertujuan dan menyediakan data tentang buku (lazim disebut data bibliografi) bagi pemakai perpustakaan. Untuk memperoleh keseragaman maka pustakawan harus menggunakan peraturan deskripsi yang seragam. Peraturan ini merupakan hasil kerja sama berbagai instansi seperti Perpustakaan Nasional, Ikatan Pustakawan, lembaga pendidikan pustakawan serta berbagai pihak yang berkepentingan.

Deskripsi bibliografi terbagi atas tujuh daerah, yaitu daerah (1) judul dan pengarang, (2) edisi, (3) penerbitan, (4) keterangan fisik, (5) seri monografi, (6) catatan, dan (7) ISBN dan harga.

MODUL 9
TAJUK ENTRI UTAMA

Kegiatan Belajar 1
Tajuk Entri Utama

Sebuah katalog terdiri dari dua bagian utama ialah bagian tajuk serta bagian deskripsi bibliografi. Bagian deskripsi bibliografi dibuat berdasarkan peraturan ISBD (M) sedangkan bagian tajuk dibuat berdasarkan peraturan penentuan tajuk.

Dalam katalog dikenal adanya kartu utama artinya kartu yang merupakan dasar untuk pembuatan kartu tambahan. Kartu utama ini terdiri dari tajuk entri dan bagian deskripsi bibliografi. Karena merupakan entri dari kartu utama maka tajuknya disebut tajuk entri utama. Dari kartu utama dapat dibuat kartu tambahan berupa pengarang, kartu judul, kartu subjek, kartu seri. Penentuan entri tambahan ini, khusus menyangkut pengarang diatur dalam peraturan penentuan entri. Penentuan kartu tambahan untuk judul dan seri sudah merupakan keharusan sehingga tidak dibahas dalam peraturan penentuan entri.

Bila sudah dibuatkan kartu, maka kartu tersebut dijajarkan. Penjajaran ini dapat berdasarkan kata demi kata atau huruf demi huruf.

Kegiatan Belajar 2
Penjajaran

Penjajaran selalu digunakan di perpustakaan karena perpustakaan selalu menggunakan pendekatan pengarang dan judul serta subjek. Kartu untuk pengarang dan judul dijajar di katalog. Untuk kartu subjek penyusunannya dapat terpisah dapat pula menjadi satu dengan kartu pengarang dan judul.

Guna memudahkan penjajaran maka diperlukan peraturan penjajaran. Di perpustakaan terdapat berbagai macam peraturan penjajaran, lazimnya menganut penjajaran menurut huruf demi huruf atau kata demi kata.

Penjajaran berkaitan dengan pengindeksan. Dalam pengindeksan dikenal beberapa jenis indeks seperti indeks berangkai, indeks kata kunci, indeks sitasi dan indeks bernama PRECIS.

Pengantar Ilmu Perpustakaan

alam Bab 1 dab 2 BMP Pengantar Ilmu Perpustakaan. Bacalah dengan seksama materi-materi tersebut. Jika ada materi yang tidak jelas, Anda dapat memanfaatkan forum diskusi untuk bertanya.
Sebelum memahami definisi perpustakaan terlebih dahulu, Anda perlu memahami pengertian buku sebagai benda yang dijadikan objek dalam pekerjaan di perpustakaan. Ada beberapa pengertian tentang buku, dalam kaitannya dengan perpustakaan, pengertian buku dalam arti luaslah (kadang-kadang diganti dengan istilag bagan perpustakaan atau pustaka) yang paling tepat karena mencakup kertas atau bahan lain yang berisi hasil tulisan atau cetakan, jumlahnya tidak terbatas pada 48 halaman. Selain itu, istilah yang perlu dipahami adalah Anda harus memahami apa yang dimaksud dengan pustakaan, kepustakawanan, dan kepustakaan.
Secara umum perpustakaan mempunyai fungsi-fungsi berikut :
(1) Penyimpanan, (2) Pendidikan, (3) Penelitian, (4) Informasi dan (5) Kultural. Coba kemukakan pendapat Anda bagaimana pelaksanaannya, tentunya Anda harus memahami pengertian dari kelima fungsi perpustakaan tersebut.
Materi yang perlu Anda pahami setelah memahami definisi ilmu perpustakaan adalah memahami lembagai lain yang tugasnya mirip dengan perpustakaan, yaitu Arsip dan Dokumentasi. Anda harus dapat menjelaskan perbedaan tugas di antara ketiganya. Coba Anda kemukakan hal tersebut !
Hal ini akan bermanfaat agar Anda lebih mengerti bagaimana cara kerja di antara ketiga lembaga tersebut. Selain itu, Ilmu Perpustakaan juga berhubungan erat dengan ilmu-ilmu lain, seperti Informatologi, Ilmu Informasi, Informatika, Perbukuan dan Bibliografi.
Sejarah berdirinya perpustakaan, baik di dunia maupun di Indoensia di bahas dalam modul 2. Hal ini perlu Anda pelajari untuk membekali pemahaman Anda tentang Ilmu Perpustakaan. Selain, sejarah perkembangan perpustkaan di dunis, dibahas pula perkembangan perpustakaan di Indonesia pada zaman Hindia Belanda, zaman

tentang deskripsi materi perpustakaan.

katalogisasi yang dibahas pada modul 5 BMP Pengantar Ilmu Perpustakaan. Katalogisasi adalah kegiatan pengolahan materi perpustakaan untuk siap dipakai, Sementara katalog yang dipakai dalam proses pengolahan materi perpustakaan itu didefinisikan sebagai daftar materi perpustakaanyang disusun menurut cara tertentu yang ada di sebuah perpustakaan. Ada beberapa bentuk kartu katalog, yaitu bentuk buku, album dan kartu. Sedangkan untuk perpustakaan terkomputer, katalog tersimpan di komputer, yang disebut dengan Online Public Access Catalogue (OPAC). Masing-masing bentuk katalog tersebut mempunyai keuntungan dan kerugian. Untuk jelasnya Anda dapat membaca pada BMP ya ……

Katalog perpustakan diterbitkan untuk beberapa tujuan atau objek, yaitu ;

1.Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku yang diketahui pengarangnya, judulnya atau subjeknya

2.Menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan berdasarkan pengarang, subjek atau dalam jenis literatur tertentu.

3.Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisi dan karakternya.

Ada beberapa susunan katalog perpustakaan yang dibagi ke dalam 4 golongan besar, yaitu

1.Katalog abjad, yang terdiri dari katalog pengarang, judul, judul, subjek dan susunan kamus.

2.Katalog berkelas

3.Alphabetico classed catalogue

4.Katalog terbagi

Materi selanjutnya yang dibahas adalah tentang deskripsi materi perpustakaan. Untuk itu ada pedoman yang diatur dalam panduan yang berjudul International Standard (for) Bibliographical Description. Seangkan organisasi deskripsi, basis deskripsi, sumber utama informasi untuk deskripsi dan aras rincian deskripsi secara detail dijelaskan dalam BMP.

Materi terakhir yang dibahas dalam inisiasi ini adalah penentuan tajuk. Penentuan tajuan entri utama diatur dalam pedoman Anglo American Cataloguing Rules Second Revision 1998 (AACR2r). AACR2r dan Standar Penentuan Tajuk Entri memuat pedoman tajuk, judul seragam dan rujukan, di mana salah satu bagian yang dibahas adalah titik akses, yaitu nama, istilah, kode dan sebagainya yang digunakan untuk menelusur dan menegnali cantuman bibliografis dari materi perpustakaan. Sementara peraturan penentuan tajuk entri utama berkaitan dengan penentuan jenis pengarang, peraturan pemilihan tajuk, peraturan membentuk tajuk, peraturan penentuan tajuk khusus untuk nama-nama Indonesi

Klasifikasi

Klasifikasi adalah proses pengelompokkan artinya mengumpulkan benda/entitas yang sana serta memisahkan benda yang sama serta memisahkan benda/entitas yang tidak sama. Berkaitan dengan perpustakaan, klasifikasi didefinisikan sebagai penyusunan sistematik terhadap buku dan materi perpustakaan lain, catalog atau entri indeks berdasarkan subjek, dalam cara paling berguna bagi mereka yang membaca atau mencari informasi. Fungsi dari klasifikasi adalah (1) sebagai gawai penyusunan buku di rak dan (2) sebagai sarana penyusunan entri bibliografis dalam katalog tercetak, bibliografi dan indeks dalam tata susunan sistematis.

Sedangkan tujuannya adalah untuk membantu pemakai mengidentikan dan melokalisasi sebuah materi perpustakaan berdasarkan nomor panggil dan mengelompokkan semua materi perpustakaan sejenis menjadi satu. Secara lebih khusus tujuan klasifikasi perpustakaan adalah untuk (1) menghasilkan urutan yang bermanfaat, (2) penempatan yang tepat, (3) penyusunan mekanis, (4) tambahan materi perpustakaan baru dan (5) penarikan materi perpustakaan dari rak.

Materi perpustakaan mencakup sejumlah besar subjek. Untuk membentuk subjek kompleks digunakan pendekatan hierarkis dan faset. Setiap bagan klasifikasi menggunakan system symbol untuk cirri kelas dan subdivisi kelas. Simbol untuk menunjukkan subjek serta hubugan antarsubjek ini disebut dengan notasi. Nitasi ada yang disebut notasi murni dan notasi campuran .

Materi selanjutnya yag dibahas adalah tentang tajuk subjek yang merupakan sarana lain untuk akses ke isi intelektual sebuah perpustakaan. Tajuk subjek memberikan pendekatan alfabetis secara acak pada konsep yang termuat di koleksi perpustakaan. Klasifikasi dan tajuk subjek merupakan yteknik akses alternative dan membentuk akses ke perpustakaan yang dikenal dengan katalogisasi subjek. Dalam kegiatan pengolahan materi perpustakaan,ada tiga kegiatan yang hasilnya berhubungan langsung dengan pemakai, yaitu deskripsi bibliografis, klafikasi dan penentuan tajuk subjekSatu topik lagi yang dibahas dalammodul 6 adalah tentang thesaurus, yaitu sarana pengawasan kosakata yang dipakai untuk menerjemahkan bahasa sehari-hari ke dalam bahasa indeks. Dilihat dari strukturnya, thesaurus adalah daftar (senerai) kata yang nbertautan satu dengan yang lain secara semantic maupun generic Sebuah thesaurus memiliki 4 tujuan utama, yaitu (1) untuk mengontrol istilah yang digunakan dalam pengindeksan, (2) untuk menjamin melalui penyediaan bahasa terkendali, (3) membatasi jumlah istilah yang diperlukan untuk sebuah dokumen, (4) bertindak sebagai alat bantu penelusuran termasuk temubalik dari system teks bebas

jasa perpustakaan

jasa perpustakaan. Seperti diketahui bersama bahwa perpustakaan didirikan untuk melayani kebutuhan informasi dari masyarakat, dalam hal ini pengguna perpustakaan. Untuk melayani pengguna,perpustakaan menyelenggarakan berbagaijasa, yaitu mulai dari jasa peminjaman, jasa referensi, sampai ke jasa pendidikan pemakai.

Jasa peminjaman, disebut juga dengan jasa sirkulasi, yaitu jasa dari staf perpustakaan yang melayani peminjaman dan pengembalian buku. Jasa ini hampir ada di seluruh jenis perpustakaan, kecuali perpustakaan nasional, yang tidak meminjamkan koleksinya ke perorangan.Sistem sirkulasisebagai sistem pencatatan dokumen dan media lain yang dipinjam dari sebuah koleksi dengan mengaitkannya pada peminjam serta data bibliografis, baik secara manual maupun elektronik. Ada beberapa sistem dalam sistem sirkulasi nonelektronik, yaitu sistem buku besar, sistem sulih, sistem browne, sistem kertas karbon,sistem peminjaman newark. Sedangkan sistem elektronik dalam sirkulasi adalah mempergunakan teknologi komputer. Ada beberapa konsep yang berkaitan dengan jasa peminjaman, yaitu perpustakaan keliling, pinjam antarperpustakaan, silang layan dan jasa penelusuran retrospektif.

Jasa referensi, adalah jasa perpustakaan dalam memberikan informasi berdasarkan referensi pada pemakai. Jasa ini disebut sebagai jasa informasi, yaitu jasa yang menyediakan informasi untuk menjawab pertanyaan pemakai. Selanjutnya, jasa ini berkembang menjadi jasa penelusuran dan penyusunan bibliografi. Jasa referens ini dilakukan oleh bagian referens dengan mendayagunakan koleksi referens yang dimilikinya. Buku referens artinya buku yang ditrancang untuk menjawab pertanyaan, mencari data dan informasi secara cepat.Sementara itu jasa referal didefinisikan sebagai jasa yang mengarahkan seorang penanya ke sumber yang sesuai untuk informasi dan data yang diperlukan pemakai. Jasa referensi ini juga menyebabkan adanya jasa terjemahan, jasa pemencaran informasi terpilih, jasa informasi. Banyak hal-hal yang berkaitan dengan jasa referens tersebut